Taqwa dan Wali: Jangan Tertipu oleh Aneh
“La ya’riful wali illa wali” — Tidak ada yang benar-benar mengenal seorang wali, kecuali wali juga. Kalimat ini sering diulang dalam literatur tasawuf klasik. Tapi seiring dengan semakin kaburnya batas antara kebatinan dan kebodohan, antara spiritualitas dan kegilaan, muncul pertanyaan penting: bagaimana masyarakat awam menilai seseorang yang dianggap “wali”? Apakah cukup dengan perilaku nyeleneh atau ucapan aneh untuk menjadikannya orang suci?

Dalam artikel ini, kita akan menjelaskan secara mendalam: apa itu wali, siapa itu wali majdub, bagaimana Islam memahami ketaqwaan, dan mengapa tidak semua yang tampak “unik” layak dijadikan teladan. Artikel ini akan mengupas berdasarkan Al-Qur’an, hadits, dan pandangan ulama klasik serta tasawuf, dilengkapi catatan kaki sebagai referensi ilmiah.
Apa Itu Taqwa?
Kata taqwa berasal dari akar kata waqā-yaqī (وقى - يقي) yang berarti “menjaga” atau “melindungi”. Dalam istilah agama, taqwa diartikan sebagai:
“Melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh rasa takut, harap, dan cinta.”
Hal ini sesuai dengan firman Allah:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13)[1]
Artinya, kemuliaan manusia tidak diukur dari status sosial, kepandaian, penampilan, atau keanehan perilaku — tetapi dari seberapa serius ia menaati Allah SWT.
Siapa Itu Wali dalam Islam?
Kata wali dalam Al-Qur’an berarti “kekasih”, “pelindung”, atau “penolong”. Allah berfirman:
“Ingatlah! Sesungguhnya para wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus: 62)[2]
Menurut ulama tafsir seperti Imam al-Qurtubi dan Imam al-Jassas, ayat ini menjelaskan bahwa wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa. Mereka tidak harus dikenal, tidak harus populer, dan tidak selalu menunjukkan karamah secara kasat mata.
Pembagian Wali Menurut Ulama Tasawuf
Dalam literatur sufi, ada dua tipe utama wali:
- Wali ‘Ārif Bāri’: wali yang mengenal Allah melalui ilmu, amal, dan kesadaran penuh. Mereka tetap menjalankan syariat secara utuh.
- Wali Majdzūb: orang yang mengalami “jadhb” atau tarikan ilahiah yang sangat kuat, sehingga bisa tampak aneh, terputus dari dunia, dan kadang seperti kehilangan kesadaran sosial.
Istilah majdub berasal dari kata jadhb (جذب) yang berarti “tarikan”. Dalam hal ini, jiwa seorang hamba ditarik langsung oleh Allah sehingga ia seperti tidak sadar pada hal-hal di sekitarnya. Beberapa ulama seperti Imam Sya’rani dalam Thabaqat al-Kubra menyebut bahwa sebagian besar wali majdub tidak berfungsi sosial seperti guru tarekat, melainkan sebagai isyarat spiritual semata.[3]
Apa yang Membuat Wali Majdub Sulit Dikenali?
Wali jenis ini sering disalahpahami karena:
- Mereka bisa tampil seperti “orang gila” menurut standar masyarakat.
- Mereka mungkin tidak rapi, tidak berpenampilan “alim”, bahkan kadang tidak berbicara logis.
- Namun, ucapannya kadang memuat hikmah yang menusuk hati orang yang peka.
Namun, penting untuk dicatat: tidak semua orang aneh adalah wali. Bahkan bisa jadi mereka hanya gangguan mental biasa. Oleh karena itu, perlu kearifan dan ilmu untuk menilai seseorang sebagai wali.
Taqwa Harus Selalu Diuji dengan Syariat
Di sinilah letak kekeliruan sebagian masyarakat: mengira bahwa seseorang yang berbicara tak karuan, berpakaian kumuh, atau hidup mengembara tanpa aturan bisa langsung dianggap sebagai wali karena “tidak terikat dunia”. Padahal, Islam memiliki standar tetap yang tak bisa diganggu gugat: syariat.
Imam Al-Junaid al-Baghdadi, salah satu tokoh besar sufi, pernah berkata:
“Jalan kami ini terikat pada Al-Qur’an dan Sunnah. Siapa yang tidak membawa keduanya, maka dia bukan bagian dari kami.”[4]
Artinya, siapapun yang dianggap wali — tetap harus berada dalam koridor hukum Allah. Jika ia:
- Tidak shalat lima waktu
- Tidak mandi wajib dalam keadaan junub
- Tidak menjaga kebersihan secara syar’i
- Melanggar batas halal-haram dengan alasan “spiritual”
Maka ia tidak bisa disebut wali, karena Allah telah menetapkan dalam banyak ayat bahwa syarat utama kedekatan pada-Nya adalah taat dan menjaga hukum-hukum-Nya:
“Barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka mereka itu bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada dan para shalihin.” (QS. An-Nisa: 69)[5]
Wali yang Sejati Tidak Pernah Meninggalkan Syariat
Banyak wali besar dalam sejarah Islam seperti:
- Syaikh Abdul Qadir al-Jilani
- Imam Nawawi
- Imam al-Ghazali
- Sunan Kalijaga dan Wali Songo
…semuanya menjalankan syariat dengan sempurna. Mereka menjadi teladan bukan hanya dalam akhlak, tetapi juga dalam ibadah lahiriyah: shalat tepat waktu, berpuasa, menjaga kesucian, dan mengajarkan umat.
Jika seseorang mengatakan: “Wali tidak perlu mandi, tidak perlu shalat, karena dia sudah dekat dengan Allah,” maka itu adalah ucapan yang berbahaya dan bertentangan dengan Al-Qur’an dan sunnah.
Seorang wali tidak mungkin menentang hukum Allah. Bahkan jika ia tampak seperti “hilang akal” karena ekstase spiritual (jadhb), maka tanggung jawab kita sebagai umat adalah tetap menilai dengan ukuran syariat.
Studi Kasus: Ketika Masyarakat Salah Menilai Wali
Dalam sejarah umat Islam — baik di Timur Tengah maupun di Nusantara — sering terjadi kekeliruan dalam menilai wali. Ada orang yang dianggap wali karena aneh, padahal bukan. Sebaliknya, ada wali sejati yang tidak dikenali karena tampil sederhana dan tidak menonjol.
Contoh 1: Orang Gila di Pasar yang Dikeramatkan
Di banyak kota, kita sering mendengar kisah tentang “orang gila” yang hidup di pasar, tidak mandi, bicara sendiri, dan dibiarkan begitu saja oleh warga. Suatu saat ia meninggal, lalu masyarakat membangun makam dan menziarahinya karena “konon” ia punya karamah. Padahal tidak ada bukti nyata, tidak ada riwayat amal ibadah, bahkan keluarga pun tidak tahu riwayat shalatnya.
Kondisi seperti ini berbahaya jika tidak disikapi dengan ilmu. Sebab bisa membuat masyarakat:
- Meniru perilaku orang tersebut tanpa dasar
- Mengabaikan pentingnya syariat
- Terjebak dalam takhayul atau pemujaan buta
Contoh 2: Wali Sejati yang Diremehkan
Imam Ahmad bin Hanbal — ulama besar Ahlus Sunnah — pernah menyebut nama seorang penjahit di zamannya sebagai “lebih mulia dariku” karena orang tersebut berzikir ribuan kali sehari, rajin berjamaah, dan tak pernah meninggalkan tahajjud. Tapi masyarakat tak mengenalnya karena ia hanya “tukang jahit biasa”.
Ini menunjukkan bahwa wali sejati bukan dilihat dari tampilan luar, tapi dari ketakwaan yang tersembunyi.
Contoh 3: Siti Jenar — Kontroversi Wali di Nusantara
Dalam khazanah keislaman Jawa, dikenal kisah Syekh Siti Jenar. Ia disebut sebagai wali yang mengajarkan paham “manunggaling kawula Gusti”, yaitu penyatuan hamba dan Tuhan. Namun, ajarannya ditentang oleh para Wali Songo karena dinilai membahayakan akidah awam. Ia akhirnya dijatuhi hukuman mati.
Pelajaran dari kisah ini: ajakan untuk “meninggalkan syariat” atas nama ma’rifat adalah kesesatan, meski datang dari orang yang dianggap ‘alim atau “aneh secara spiritual”.
Jangan Mudah Menilai — Tapi Jangan Gampang Memuliakan
Dalam tasawuf, ada prinsip penting:
“Wali tidak selalu terlihat — dan yang terlihat belum tentu wali.”
Oleh sebab itu, jika kita bertemu dengan orang yang:
- Tidak shalat, tidak bersuci, berbicara tidak karuan
- Berperilaku nyeleneh, namun tidak menampakkan ilmu, amal, dan adab
Maka, jangan mudah menyebutnya wali. Jangan pula merendahkannya. Sikap terbaik adalah berhusnuzhan namun tetap sebagai syariat timbangan.
Penutup: Jangan Tertipu oleh Kesalehan yang Tampak Aneh
Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri. Di masa ini, ketika informasi menyebar cepat dan banyak orang berlomba mencari "karomah" dan "keanehan spiritual", kita perlu kembali pada pondasi Islam yang kokoh: Al-Qur’an, Sunnah, dan Syariat.
Seorang wali sejati:
- Selalu menjaga shalatnya
- Menjaga wudhunya dan kebersihan badan
- Tidak berkata keji atau menyesatkan
- Meneladani Rasulullah ﷺ dalam akhlak dan ibadah
Adapun orang yang tampak eksentrik — tidak mandi, tidak shalat, berbicara aneh — bisa jadi hanya orang biasa, bisa juga penderita gangguan jiwa. Kita tidak boleh cepat menuduh, tapi juga tidak boleh cepat memuliakan.
Imam Malik pernah berkata:
“Siapa pun yang mengklaim mencintai Allah namun meninggalkan sunnah Nabi, maka dia pembohong.”[6]
Mari kita ukur kedekatan seseorang pada Allah — termasuk diri kita sendiri — bukan dari “kesan spiritual” semata, tapi dari sejauh mana kita taat pada syariat-Nya.
Kesimpulan
- Taqwa adalah ukuran kemuliaan sejati, bukan popularitas atau keanehan.
- Wali adalah hamba Allah yang istiqamah menjalankan syariat dan ikhlas dalam ibadah.
- Wali majdub adalah kategori khusus yang tidak bisa dinilai oleh orang awam dan tidak bisa dijadikan panutan umum.
- Syariat adalah standar mutlak; siapa pun yang menyimpang darinya tidak bisa dianggap dekat dengan Allah.
Semoga kita semua diberikan ilmu yang bermanfaat, iman yang kokoh, dan hati yang penuh adab dalam memandang sesama manusia.
Wallāhu a’lam bish-shawāb.
Belum ada Komentar untuk "Taqwa dan Wali: Jangan Tertipu oleh Aneh"
Posting Komentar