Teungku Abdullah Syafi’i: Perlawanan, Kesetiaan, dan Warisan Perdamaian di Tanah Rencong
Mei 14, 2025
Tambah Komentar
Di balik pegunungan hijau dan garis pantai Aceh yang memesona, tersimpan narasi panjang tentang perjuangan, pengorbanan, dan keteguhan hati. Salah satu tokoh yang mengukir namanya dalam sejarah gerakan Aceh adalah Teungku Abdullah Syafi’i —seorang ulama, panglima perang, dan simbol ketegasan bagi pendukung Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Kisahnya adalah cermin dari pergolakan Aceh yang berdarah-darah, sekaligus bukti kesetiaan hingga akhir hayat.
Akar Konflik: Dari Kolonialisme ke Gerakan Merdeka

Konflik Aceh tidak lahir dalam semalam. Sejak era kolonial Belanda, Aceh dikenal sebagai wilayah yang gigih menolak penjajahan. Perlawanan ini berlanjut pasca-kemerdekaan Indonesia, terutama ketika kebijakan sentralistik Orde Baru menggerus otonomi dan identitas budaya Aceh. Kekecewaan atas ketimpangan ekonomi, eksploitasi sumber daya alam, dan represi militer memicu lahirnya Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 4 Desember 1976, diproklamasikan oleh Hasan di Tiro.
GAM bukan sekadar gerakan separatis, melainkan perwujudan dari rasa keacehan yang terancam. Mereka menuntut kemerdekaan berdasarkan sejarah panjang Aceh sebagai kesultanan berdaulat dan kekecewaan terhadap Jakarta. Namun, jalan yang dipilih adalah perlawanan bersenjata—sebuah pilihan yang menuai konflik berdarah selama puluhan tahun.
Teungku Abdullah Syafi’i: Dari Pesantren ke Medan Juang
Lahir di Pidie pada 1949, Abdullah Syafi’i tumbuh dalam lingkungan agama yang kuat. Ia menimba ilmu di Dayah (pesantren Aceh) dan melanjutkan studi ke Timur Tengah, di mana pemikirannya tentang keislaman dan kebebasan semakin mengkristal. Sekembalinya ke Aceh, ia tak bisa tinggal diam melihat penderitaan rakyatnya.
Pada 1980-an, Abdullah Syafi’i memutuskan bergabung dengan GAM. Karisma, kecerdasan taktis, dan integritasnya membuatnya cepat menanjak. Setelah kematian Hasan di Tiro (yang berada di pengasingan Swedia), Syafi’i menjadi salah satu pemimpin utama gerakan. Berbeda dengan para pendahulu yang sering bersembunyi di hutan atau luar negeri, Abdullah Syafi’i memilih tinggal di Aceh, hidup di antara rakyat, dan memimpin perlawanan secara langsung.
Strategi Gerilya dan Duka Rakyat Aceh
Di bawah komando Syafi’i, GAM mengadopsi taktik perang gerilya. Mereka menguasai wilayah pedesaan, merekrut pemuda, dan melancarkan serangan sporadis terhadap pos militer. Namun, konflik ini juga memakan korban jiwa yang tidak sedikit. Operasi militer seperti Daerah Operasi Militer (DOM) 1989–1998 meninggalkan trauma mendalam: desa dibakar, warga sipil diculik, dan ribuan orang hilang.
Syafi’i dikenal tegas namun religius. Ia melarang pasukannya menyakiti warga sipil dan selalu menekankan bahwa perjuangan GAM adalah "perang suci" (jihad sabil) untuk keadilan. Di mata pendukungnya, ia adalah "Wali Nanggroe" (penjaga negeri) yang dihormati. Namun, bagi pemerintah Indonesia, ia adalah musuh nomor satu.
Kesetiaan Hingga Akhir: Gugurnya Sang Panglima
Pada 22 Januari 2002, pasukan TNI mengepung markas Syafi’i di Gunung Halimun, Aceh Besar. Setelah baku tembak sengit, Teungku Abdullah Syafi’i tewas bersama isteri dan tujuh pengawal setianya. Kematiannya menjadi pukulan telak bagi GAM, tetapi juga memantik gelombang duka di seluruh Aceh. Rakyat Aceh—baik yang pro-GAM maupun netral—memandang Syafi’i sebagai syuhada yang gugur demi harga diri negerinya.
Dari Konflik ke Damai: Warisan yang Tak Pudar
Kematian Syafi’i bukan akhir dari perjuangan GAM. Konflik terus berlanjut hingga gempa dan tsunami 2004 menghancurkan Aceh, memaksa kedua pihak bernegosiasi. Pada 15 Agustus 2005, Perjanjian Helsinki ditandatangani. GAM meletakkan senjata, dan Aceh mendapatkan otonomi khusus dengan hak mengatur syariat Islam serta porsi keuntungan SDA yang lebih adil.
Hari ini, nama Teungku Abdullah Syafi’i tetap hidup. Ia dikenang bukan sebagai pemberontak, melainkan sebagai pejuang yang konsisten pada prinsip. Monumen dan buku-buku sejarah lokal mencatat jasanya, sementara generasi muda Aceh belajar bahwa perjuangan hak bisa ditempuh lewat diplomasi, bukan pertumpahan darah.
Penutup: Aceh yang Berdaulat dalam Bingkai NKRI
Kisah Teungku Abdullah Syafi’i mengajarkan bahwa konflik Aceh adalah kompleks—melibatkan soal identitas, keadilan, dan martabat. Meski GAM telah bubar, semangatnya tetap relevan: bahwa tidak ada perdamaian abadi tanpa pengakuan terhadap hak-hak dasar manusia. Aceh kini berdiri sebagai daerah istimewa, dengan luka lama yang perlahan sembuh.
Di ufuk barat Indonesia, sang panglima mungkin telah tiada, tetapi prinsipnya tetap bergema: "Adat bak Poteu Meureuhom, hukôm bak Syiah Kuala, qanun bak Putroe Phang, reusam bak Laksamana." (Adat di tangan Sultan, hukum di tangan ulama, qanun di tangan ratu, tradisi di tangan laksamana). Sebuah falsafah yang mengingatkan kita bahwa Aceh adalah mozaik sejarah yang tak boleh dilupakan.
📖 Ditulis sebagai penghormatan pada sejarah, tanpa maksud politis. Mari jadikan masa lalu sebagai cermin untuk membangun masa depan yang lebih baik. 🌿
Belum ada Komentar untuk "Teungku Abdullah Syafi’i: Perlawanan, Kesetiaan, dan Warisan Perdamaian di Tanah Rencong"
Posting Komentar