Jejak Muslim & Masjid di China 1875: Sejarah Xinjiang, Gansu, Hami & Lanzhou
Pendahuluan
Islam telah lama hadir di Tiongkok, terutama di wilayah barat laut yang dilalui Jalur Sutra. Sekitar tahun 1875, kondisi umat Muslim di Xinjiang dan Gansu dipengaruhi oleh peristiwa besar dalam sejarah akhir Dinasti Qing, termasuk Pemberontakan Dungan (1862–1877). Artikel ini membahas latar belakang sejarah Islam di wilayah tersebut hingga 1875, situasi politik–sosial umat Muslim, peran masjid, serta respons pemerintah Qing.

Gambar: Masjid yang rusak di Hami, Xinjiang dan Masjid Xiguan, Lanzhou, tahun 1875 (sumber: Wikimedia Commons)
Latar Belakang Sejarah Islam
Islam masuk ke Tiongkok sejak abad ke-7 melalui Jalur Sutra. Komunitas Muslim berkembang di Xinjiang dan Gansu, seperti di Hami dan Lanzhou. Setelah penaklukan Qing terhadap Dzungar pada abad ke-18, Islam menyebar lebih luas di Xinjiang. Masjid seperti Masjid Xiguan di Lanzhou mencerminkan arsitektur Tionghoa-Islam dan menjadi pusat penting keagamaan dan budaya.
Pembahasan
Sistem Politik dan Sosial
Pemberontakan Dungan (1862–1877) menyebabkan konflik besar di Shaanxi, Gansu, dan Xinjiang. Jutaan tewas, dan banyak Muslim melarikan diri ke Rusia. Kekuasaan Yaqub Beg (1873–1877) di Xinjiang Barat akhirnya ditumbangkan oleh pasukan Qing di bawah Jenderal Zuo Zongtang.

Gambar: Masjid yang rusak di Hami, Xinjiang, tahun 1875 (sumber: Wikimedia Commons)
Kondisi dan Fungsi Masjid
Masjid bukan hanya tempat salat, tetapi juga pusat pendidikan dan sosial. Masjid Xiguan di Lanzhou menjadi institusi keagamaan penting. Gaya arsitekturnya memadukan elemen Islam dan Tionghoa.

Gambar: Masjid Xiguan, Lanzhou (sumber: Wikimedia Commons)
Uyghur dan Hui
Uyghur adalah Muslim berbahasa Turkik di Xinjiang, sementara Hui adalah Muslim Tionghoa di Gansu dan sekitarnya. Keduanya berbeda dalam bahasa, adat, dan arsitektur masjid. Umumnya mereka beribadah di masjid yang terpisah.
Respons Pemerintah Qing
Pemerintah Qing menerapkan kebijakan represif terhadap gerakan Islam pasca pemberontakan. Pemimpin Muslim yang loyal diberi peran keamanan, sementara yang menentang dihukum. Pembatasan pembangunan masjid diberlakukan, termasuk pelarangan aliran-aliran sufi tertentu.
"Uyghur dan Hui biasanya beribadah di masjid yang berbeda. Masjid-masjid Hui sering memakai gaya pagoda, sedangkan masjid Uyghur memakai gaya Asia Tengah."
Kesimpulan
Pada tahun 1875, umat Muslim di Xinjiang dan Gansu mengalami tekanan sosial dan politik besar akibat konflik dan kebijakan Qing. Meski begitu, masjid tetap menjadi pusat spiritual dan sosial. Perbedaan antara Uyghur dan Hui dalam bahasa, budaya, dan ibadah memperkaya keragaman Islam di Tiongkok barat laut.
Referensi
- Millward, James. Eurasian Crossroads: A History of Xinjiang. Columbia University Press.
- Israeli, Raphael. Muslims in China: A Study of Cultural Survival.
- Lipman, Jonathan N. Familiar Strangers: A History of Muslims in Northwest China.
- Wikimedia Commons: Hami Mosque ruins, Xiguan Mosque Lanzhou.
Belum ada Komentar untuk "Jejak Muslim & Masjid di China 1875: Sejarah Xinjiang, Gansu, Hami & Lanzhou"
Posting Komentar