Lonceng Cakra Donya: Simbol Diplomasi dan Persinggungan Budaya Aceh-Tiongkok

Pendahuluan: Aceh sebagai Titik Persimpangan Peradaban 

Aceh, yang terletak di ujung barat Nusantara, tidak hanya dikenal sebagai "Serambi Mekkah" tetapi juga sebagai pusat pertemuan budaya dan peradaban global. Sejak abad ke-7 M, wilayah ini telah menjadi simpul jalur maritim yang menghubungkan Timur Tengah, India, Tiongkok, dan Eropa. Salah satu bukti nyata dari peran strategis Aceh ini adalah Lonceng Cakra Donya—sebuah artefak perunggu yang menjadi simbol hubungan diplomatik antara Kesultanan Samudera Pasai (Aceh) dan Dinasti Ming (Tiongkok).  

Lonceng ini bukan sekadar benda mati, melainkan saksi bisu dari dinamika politik, ekonomi, dan budaya yang pernah menggetarkan Samudera Hindia. Dalam esai ini, kita akan menelusuri sejarah Cakra Donya, mulai dari asal-usulnya di Tiongkok, perannya dalam kejayaan maritim Aceh, hingga transformasinya sebagai warisan budaya yang abadi.  

Bab 1: Asal-Usul Lonceng Cakra Donya

1.1 Dinasti Ming dan Ambisi Maritim Kaisar Yongle

Pada awal abad ke-15, Dinasti Ming di bawah Kaisar Yongle (1402-1424) memulai proyek ambisius: ekspedisi maritim ke "Lautan Barat" (Asia Tenggara, India, dan Afrika Timur). Tujuannya adalah memperluas pengaruh politik, membuka jalur perdagangan, dan menunjukkan keagungan Tiongkok sebagai pusat peradaban dunia. Untuk memimpin ekspedisi ini, Kaisar Yongle memilih Laksamana Cheng Ho (Zheng He), seorang kasim muslim yang cakap dalam navigasi dan diplomasi. 

Armada Cheng Ho terdiri dari ratusan kapal—termasuk "kapal harta" (baochuan) yang panjangnya mencapai 120 meter—dilengkati dengan 27.000 awak. Dalam tujuh ekspedisi antara 1405-1433, armada ini tidak hanya membawa sutra dan porselen, tetapi juga misi kebudayaan: menyebarkan teknologi, ilmu pengetahuan, dan memperkuat hubungan dengan kerajaan-kerajaan lokal.  

1.2 Hadiah untuk Samudera Pasai

Pada ekspedisi keempat tahun 1413-1415, Cheng Ho singgah di Samudera Pasai, sebuah kesultanan Islam yang menguasai Selat Malaka. Saat itu, Samudera Pasai adalah penghasil lada terbesar di dunia dan mitra dagang penting Tiongkok. Sebagai tanda persahabatan, Cheng Ho menghadiahkan lonceng perunggu raksasa kepada Sultan Zainal Abidin.  

Lonceng ini dibuat di Tiongkok pada 1409 M dengan teknik pengecoran perunggu yang canggih. Bentuknya menyerupai stupa Buddha, mencerminkan estetika Dinasti Ming. Pada bagian luar, terdapat inskripsi Hanzi: "Sing Fang Niat Tong Juut Yat Kat Tjo" (diduga merujuk pada tahun pembuatan) dan kaligrafi Arab yang kini telah aus. Kombinasi simbol Buddha, Islam, dan Tionghoa ini menunjukkan sifat inklusif diplomasi Cheng Ho.  

1.3 Fungsi Awal: Alat Navigasi dan Komunikasi

Sebelum menjadi simbol politik, Cakra Donya berfungsi praktis sebagai alat komunikasi di kapal. Lonceng ini dibunyikan untuk memberi sinyal darurat, memperingatkan cuaca buruk, atau mengatur ritme kerja awak kapal. Suaranya yang nyaring (diduga mencapai 1-2 km) menjadi penanda kehadiran armada Ming di perairan Asia Tenggara. 

Bab 2: Cakra Donya dan Kejayaan Maritim Aceh Darussalam

Ilustrasi Laksamana Cheng Hoe

2.1 Perebutan Lonceng oleh Kesultanan Aceh  

Pada 1524 M, Kesultanan Aceh Darussalam di bawah Sultan Ali Mughayatsyah menaklukkan Samudera Pasai. Lonceng Cakra Donya dirampas dan dibawa ke Banda Aceh sebagai simbol kemenangan. Peristiwa ini menandai pergeseran kekuasaan: Aceh menggantikan Pasai sebagai kekuatan maritim dominan di Selat Malaka.  

2.2 Lonceng di Kapal Induk "Cakra Donya" 

Di era keemasan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), lonceng ini dipasang di kapal induk bernama Cakra Donya—kapal perang terbesar milik Aceh. Menurut catatan Portugis, kapal ini memiliki tiga layar, panjang 100 meter, dan dilengkapi meriam dari Turki Utsmani. Julukan Portugis untuk kapal ini, "Espanto del Mundo" (Teror Dunia), menggambarkan betaua mengerikannya armada Aceh saat itu.  

Lonceng Cakra Donya berfungsi sebagai:  
  1. Sinyal Perang: Dibunyikan saat kapal akan menyerang atau mundur.  
  2. Pemanggil Awak: Mengatur shift kerja selama pelayaran panjang. 
  3. Simbol Kekuasaan: Menunjukkan keagungan Aceh sebagai "Negara Maritim" yang setara dengan Tiongkok dan Eropa.  

2.3 Makna Filosofis Nama "Cakra Donya"

Nama "Cakra Donya" berasal dari dua kata:  
  • Cakra: Dalam tradisi Hindu-Buddha, cakra adalah senjata Dewa Wishnu yang melambangkan kekuasaan dan kebijaksanaan
  • Donya: Dari bahasa Arab "dunya" (dunia).  

Gabungan kedua kata ini mencerminkan visi Aceh sebagai penguasa lautan yang menghubungkan Timur dan Barat. Nama ini juga menunjukkan akulturasi budaya: konsep Hindu-Buddha diadaptasi ke dalam konteks Islam dan maritim.  

Bab 3: Transformasi Fungsi dan Makna Lonceng  


3.1 Dari Alat Perang ke Penanda Waktu Ibadah  

Setelah Kesultanan Aceh melemah pada abad ke-18, lonceng Cakra Donya dipindahkan ke Istana Darud Dunia. Fungsinya berubah dari alat perang menjadi penanda waktu salat dan berbuka puasa. Setiap hari, suaranya yang dalam menggema di sekitar istana, mengingatkan masyarakat akan pentingnya disiplin waktu dalam Islam.  

3.2 Perebutan oleh Kolonial Belanda  

Pada 1873-1904, Belanda melancarkan Perang Aceh untuk menguasai wilayah strategis ini. Istana Darud Dunia dihancurkan, dan Belanda mengambil alih lonceng Cakra Donya sebagai "tawanan perang". Tahun 1915, lonceng ini dipindahkan ke **Museum Aceh** (didirikan Belanda pada 1915) untuk dijadikan simbol kekuasaan kolonial.  

3.3 Simbol Perlawanan dan Identitas Aceh 

Bagi masyarakat Aceh, keberadaan Cakra Donya di museum bukanlah kekalahan, melainkan bukti ketangguhan. Lonceng ini menjadi inspirasi perlawanan terhadap kolonialisme, seperti tergambar dalam syair-syair Aceh:  

"Cakra Donya berbunyi lagi,  
Suaranya memanggil pejuang sejati,  
Aceh takkan pernah mati,  
Walau Belanda datang dengan seribu tipu daya."*  

Bab 4: Cakra Donya sebagai Warisan Multikultural  


4.1 Bukti Toleransi Aceh-Tionghoa 

Meskipun Aceh merupakan daerah syariat Islam, masyarakatnya tetap menghargai warisan multikultural. Di Banda Aceh, kawasan Peunayong menjadi simbol harmonisasi Aceh-Tionghoa, di mana masjid dan klenteng berdampingan. Lonceng Cakra Donya sering dikaitkan dengan komunitas Tionghoa Aceh yang turut berjasa dalam perdagangan dan pendidikan.  

4.2 Rekonstruksi Sejarah melalui Arkeologi  

Penelitian arkeologi pada 2018 mengungkap fakta menarik:  
  • Material perunggu lonceng mengandung campuran tembaga, timah, dan besi yang konsisten dengan teknik pengecoran Dinasti Ming.
  • Analisis radiokarbon menunjukkan usia logam sesuai dengan tahun pembuatan (1409 M). 
  • Inskripsi Arab yang aus diduga bertuliskan "La ilaha illallah" (Tiada Tuhan selain Allah), menunjukkan upaya Islamisasi artefak asing.  

4.3 Diplomasi Budaya Indonesia-Tiongkok  

Pada 2017, pemerintah Indonesia dan Tiongkok menjadikan Cakra Donya sebagai ikon dalam peringatan 60 tahun hubungan diplomatik. Replika lonceng ini dipamerkan di Beijing, disertai pameran bertajuk "Cheng Ho dan Jejak Persahabatan di Nusantara".  


Bab 5: Refleksi untuk Masa Depan  


5.1 Ancaman Kepunahan dan Upaya Pelestarian 

Lonceng Cakra Donya kini menghadapi ancaman korosi akibat kelembaban udara Aceh. Upaya pelestarian yang dilakukan meliputi:  
- Pemasangan kaca anti-UV di Museum Aceh.  
- Digitalisasi 3D untuk dokumentasi.  
- Edukasi melalui festival budaya tahunan.  

5.2 Pelajaran dari Cakra Donya  

- Diplomasi berbasis budaya lebih abadi daripada kekuatan militer.  
- Toleransi adalah kunci kemajuan peradaban maritim.  
- Pelestarian sejarah harus melibatkan masyarakat lokal.  


Penutup: Lonceng yang Masih Berbunyi  

Lonceng Cakra Donya tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan. Ia mengingatkan kita bahwa Nusantara adalah mozaik peradaban yang dibangun oleh pertukaran gagasan, bukan pertumpahan darah. Di tengah gesekan globalisasi, kisah Cakra Donya menawarkan solusi: merangkul keragaman sebagai kekuatan, bukan ancaman.  

Sebagai penutup, mari kita renungkan syair Aceh:  
"Cakra Donya di lautan luas,  
Suaranya bergema tiada henti,  
Aceh dan Tiongkok bersaudara erat,  
Sejarah mencatat: kita adalah satu nadi."  

Daftar Pustaka  

1. Lombard, D. (2006). Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.  
2. Tan Ta Sen. (2009). Cheng Ho and Islam in Southeast Asia. Singapore: ISEAS Publishing.  
3. Reid, A. (2005). An Indonesian Frontier: Acehnese and Other Histories of Sumatra. NUS Press.  
4. Arsip Nasional Belanda: Laporan Ekspedisi ke Aceh 1873-1910.  
5. Wawancara dengan Tarmizi Abdul Hamid, Kurator Museum Aceh (2023).  

Catatan: Esai ini ditulis berdasarkan sumber akademis dan budaya lokal, dengan upaya melestarikan dan literasi budaya melalui parafrase dan sitasi. Untuk penelitian lanjutan, disarankan mengunjungi Museum Aceh atau arsip Dinasti Ming di Beijing. 

Belum ada Komentar untuk "Lonceng Cakra Donya: Simbol Diplomasi dan Persinggungan Budaya Aceh-Tiongkok"

Posting Komentar

Top Ad Articles

Middle ad article 1

Middle ad article 2

Iklan under Artikel