Teungku Muhammad Saleh (Abu Lambhuk): Ulama, Pendidik, dan Pengabdi Rakyat Aceh yang Menghidupkan Ilmu di Tengah Perubahan Zaman
Pendahuluan
Sejarah Aceh tidak hanya dibangun oleh para sultan, panglima perang, pejuang bersenjata, dan pemimpin pemerintahan. Di balik perjalanan panjang masyarakat Aceh terdapat kelompok ulama yang bekerja dalam ruang yang sering kali tidak terlihat: mendidik anak-anak, membimbing masyarakat, menghidupkan masjid dan meunasah, mengajarkan kitab, membentuk kader ulama, serta menjaga agar agama dan pengetahuan tetap hidup ketika keadaan politik berubah dengan cepat.
Salah seorang tokoh yang layak ditempatkan dalam barisan tersebut adalah Teungku Muhammad Saleh Lambhuk, yang oleh masyarakat lebih dikenal dengan sebutan Abu Lambhuk atau Teungku Chik di Lambhuk. Namanya memang tidak selalu muncul dalam buku sejarah populer sebesar nama sejumlah tokoh Aceh lainnya. Namun, apabila sejarah dilihat dari sudut pandang pendidikan, dakwah, pembentukan masyarakat, dan kesinambungan tradisi keilmuan, kedudukan Abu Lambhuk menjadi jauh lebih penting.

Abu Lambhuk hidup pada masa yang penuh perubahan. Ia lahir ketika Perang Aceh dan kolonialisme Belanda masih meninggalkan pengaruh kuat terhadap kehidupan masyarakat. Ia tumbuh dalam lingkungan ulama, belajar dalam tradisi dayah, kemudian memperdalam ilmu di Yan, Kedah, sebelum kembali ke Aceh. Sekembalinya ke tanah kelahiran, ia tidak memilih kehidupan yang nyaman sebagai seorang alim yang hanya mengajar kelompok terbatas. Ia mendirikan dayah di Lambhuk dan mengabdikan ilmu yang diperolehnya kepada masyarakat.
Riwayat hidupnya menunjukkan bahwa pengabdian seorang ulama tidak selalu harus diwujudkan melalui jabatan politik atau kepemimpinan formal. Ada bentuk pengabdian yang berlangsung jauh lebih panjang: mendidik manusia. Seorang pejabat dapat meninggalkan gedung, seorang penguasa dapat meninggalkan istana, dan seorang politikus dapat meninggalkan jabatan. Namun, guru meninggalkan manusia yang meneruskan ilmunya. Dalam konteks inilah warisan Abu Lambhuk menjadi penting.
Sumber biografis yang ditulis oleh Dr. Nurkhalis Mukhtar El-Sakandary menyebut bahwa nama beliau adalah Teungku Muhammad Saleh, putra Teungku Abdul Shamad dan Cut Nur Laila. Ia diperkirakan lahir sekitar tahun 1890. Sejak kecil ia belajar kepada ayahnya yang juga dikenal sebagai ulama dan ahli Al-Qur'an. Setelah itu ia memilih Yan, Kedah, sebagai salah satu pusat pengembaraan intelektualnya. Setelah beberapa tahun belajar di sana, ia kembali ke Aceh pada 1916 dan sekitar dua tahun kemudian mendirikan dayah di Lambhuk.
Dari perjalanan tersebut muncul sebuah kesimpulan penting: Abu Lambhuk tidak sekadar menerima ilmu sebagai warisan, tetapi mengubah ilmu menjadi pengabdian sosial. Inilah alasan mengapa kisah hidupnya layak dibaca kembali, bukan semata-mata sebagai biografi seorang ulama, tetapi sebagai pelajaran tentang bagaimana pendidikan dapat menjadi bentuk perjuangan yang paling panjang umurnya.
Dari Keluarga Ulama: Awal Kehidupan Teungku Muhammad Saleh
Teungku Muhammad Saleh lahir dalam lingkungan keluarga yang memiliki hubungan kuat dengan tradisi keulamaan. Ayahnya, Teungku Abdul Shamad, disebut sebagai seorang ulama dan ahli Al-Qur'an. Ibunya, Cut Nur Laila, berasal dari Lambhuk. Karena hubungan inilah nama Lambhuk kemudian melekat kuat pada sosok Muhammad Saleh hingga masyarakat mengenalnya sebagai Abu Lambhuk.
Lingkungan keluarga memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian seorang anak pada masyarakat Aceh masa itu. Pendidikan tidak selalu dimulai dari sekolah formal. Rumah, meunasah, masjid, dan dayah merupakan ruang pendidikan yang saling berkaitan. Anak-anak diperkenalkan kepada Al-Qur'an, dasar-dasar agama, akhlak, bahasa Arab, fikih, dan berbagai pengetahuan keislaman sesuai tingkat kemampuan mereka.
Muhammad Saleh tumbuh dalam suasana semacam itu.
Sejak usia muda, ia menunjukkan kesungguhan dalam belajar. Kesungguhan tersebut kemudian membawanya kepada pilihan yang sangat penting: meninggalkan lingkungan yang telah dikenalnya untuk mencari ilmu di tempat lain.
Pilihan menuju Yan, Kedah, bukan keputusan kecil. Pada masa itu, perjalanan Aceh menuju Semenanjung Melayu berkaitan erat dengan situasi politik dan keagamaan. Setelah tekanan kolonial semakin kuat, sejumlah ulama Aceh memilih berhijrah atau mengembangkan kegiatan keilmuan di wilayah Kedah. Yan kemudian berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang memiliki hubungan erat dengan tradisi keilmuan Aceh.
Dalam konteks tersebut, perjalanan Muhammad Saleh ke Yan tidak dapat dipandang hanya sebagai perjalanan seorang santri mencari guru. Ia merupakan bagian dari jaringan intelektual Aceh-Melayu yang memungkinkan ilmu, kitab, guru, dan murid bergerak melintasi batas wilayah.
Yan Kedah dan Pengembaraan Intelektual
Salah satu bagian terpenting dalam perjalanan Abu Lambhuk adalah masa belajarnya di Yan, Kedah.
Sejumlah ulama Aceh yang kemudian memiliki pengaruh besar juga mempunyai hubungan dengan pusat pendidikan tersebut. Nama-nama seperti Teungku Muhammad Hasan Krueng Kalee, Teungku Ahmad Hasballah Indrapuri, Teungku Abdullah Lam U, dan Teungku Muhammad Saleh Lambhuk disebut dalam berbagai sumber sebagai bagian dari jaringan ulama yang pernah belajar atau beraktivitas di Yan.
Yan bukan sekadar tempat belajar kitab. Ia menjadi ruang pertemuan berbagai tradisi keilmuan Islam. Para ulama Aceh yang berada di sana membawa tradisi dayah dari tanah asal mereka, sementara lingkungan Kedah memberikan ruang bagi berkembangnya jaringan pendidikan Islam Melayu.
Bagi Muhammad Saleh, pengalaman tersebut tampaknya membentuk cara pandangnya terhadap pendidikan. Ilmu tidak cukup disimpan dalam ingatan. Ilmu harus diajarkan.
Itulah sebabnya ketika ia kembali ke Aceh pada 1916, arah kehidupannya menjadi jelas: mengabdikan diri kepada masyarakat.
Keputusan pulang tersebut patut dipandang sebagai bentuk pengorbanan intelektual. Setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan, seseorang sebenarnya dapat memilih untuk tetap tinggal di pusat pendidikan atau mencari kehidupan yang lebih mapan. Abu Lambhuk justru kembali ke Aceh yang masih berada dalam masa sulit.
Ia pulang bukan untuk mengejar kemewahan.
Ia pulang membawa ilmu.
Kembali ke Aceh: Memilih Jalan Pengabdian
Sekitar tahun 1916, Abu Lambhuk kembali ke tanah kelahirannya. Dua tahun kemudian, sekitar 1918, ia mulai mendirikan dayah di Lambhuk.
Keputusan mendirikan dayah memiliki arti besar dalam masyarakat Aceh. Dayah bukan hanya lembaga pendidikan agama dalam pengertian sempit. Ia merupakan pusat pembentukan karakter, tempat masyarakat mendapatkan bimbingan keagamaan, sekaligus ruang lahirnya kader-kader pemimpin umat.
Di sinilah kita dapat melihat inti pengabdian Abu Lambhuk.
Ia tidak hanya mengajarkan apa yang ia ketahui. Ia membangun lingkungan agar pengetahuan dapat diwariskan.
Dayah yang ia bangun menjadi ruang bertemunya santri dan masyarakat. Pengajaran tidak berhenti pada pendidikan laki-laki yang menjadi santri. Sumber biografis menyebut bahwa Abu Lambhuk juga mengajarkan masyarakat umum, termasuk kaum ibu. Menurut sumber tersebut, ia memandang pendidikan agama sebagai sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Muslim.
Sikap ini menunjukkan pandangan pendidikan yang cukup luas.
Bagi Abu Lambhuk, ilmu agama bukan milik kelompok tertentu.
Ia bukan hanya milik santri.
Ia bukan hanya milik ulama.
Ia adalah kebutuhan masyarakat.
Cara berpikir seperti ini penting untuk dipahami dalam konteks sejarah. Ketika pendidikan formal modern belum merata, ulama dan dayah memikul sebagian besar tanggung jawab pendidikan masyarakat. Karena itu, seorang ulama yang membuka pintu pengajaran kepada masyarakat luas sebenarnya sedang membangun infrastruktur sosial.
Menghidupkan Pendidikan di Tengah Perubahan Zaman
Abu Lambhuk hidup ketika Aceh mengalami perubahan sosial yang sangat besar. Kolonialisme telah mengubah struktur politik. Sistem pendidikan modern mulai berkembang. Masyarakat berhadapan dengan pertanyaan baru tentang bagaimana mempertahankan tradisi keislaman tanpa menutup diri terhadap perkembangan zaman.
Dalam kondisi seperti itu, sikap ulama terhadap pendidikan menjadi sangat penting.
Abu Lambhuk dikenal menggunakan sejumlah kitab dalam tradisi mazhab Syafi'i sebagai bahan pengajaran, antara lain Riyadhus Shalihin, Kifayatul Akhyar, Tafsir Jalalain, dan Nashaih Diniyah, selain karya-karya ulama Aceh yang dikenal sebagai Kitab Lapan. Sumber biografis yang membahasnya menilai corak keilmuannya berada dalam tradisi tradisional yang tetap memiliki sisi moderat dan pembaruan.
Hal ini penting karena menunjukkan bahwa mempertahankan tradisi tidak selalu berarti menolak perubahan.
Tradisi dapat menjadi fondasi.
Pembaharuan dapat menjadi cara memperluas manfaat.
Abu Lambhuk tampaknya berdiri pada titik pertemuan tersebut: menjaga dasar-dasar keilmuan Islam sambil menjadikan pendidikan sebagai instrumen untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Abu Lambhuk dan Masjid sebagai Pusat Kehidupan Umat
Pengabdian Abu Lambhuk tidak terbatas pada dayah. Ia juga dikenal sebagai ulama yang pernah menjadi imam Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Beberapa sumber sejarah tentang ulama Aceh secara konsisten mencantumkan Muhammad Saleh Lambhuk sebagai ulama dan imam Masjid Raya Baiturrahman.
Kedudukan tersebut memperlihatkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap keilmuan dan kepemimpinannya.
Masjid Raya Baiturrahman bukan sekadar tempat ibadah. Dalam sejarah Aceh, masjid tersebut memiliki posisi simbolis yang sangat penting. Ia menjadi tempat berkumpulnya ulama dan masyarakat, ruang dakwah, pusat pembicaraan keagamaan, dan salah satu simbol identitas Aceh.
Karena itu, menjadi imam di sana berarti memikul tanggung jawab moral yang besar.
Seorang imam bukan hanya memimpin shalat.
Ia menjadi rujukan.
Ia menjadi tempat masyarakat bertanya.
Ia menjadi penghubung antara nilai agama dan kehidupan sehari-hari.
Dalam posisi semacam itu, Abu Lambhuk memperlihatkan bentuk pengabdian yang berbeda dari sekadar aktivitas mengajar di dayah.
Ia hadir di tengah masyarakat.
Pengabdian kepada Perempuan dan Masyarakat Umum
Salah satu aspek yang menarik dari kiprah Abu Lambhuk adalah perhatiannya terhadap pendidikan masyarakat umum, termasuk kaum perempuan.
Dalam sumber biografis mengenai dirinya disebutkan bahwa selain mengajar kitab kepada santri, ia juga memberikan pengajaran kepada masyarakat umum dan kaum ibu.
Hal tersebut patut mendapat perhatian khusus.
Pendidikan masyarakat tidak akan berhasil apabila hanya menyentuh satu kelompok. Keluarga merupakan lingkungan pertama tempat nilai agama dan moral diwariskan kepada anak. Karena itu, memberikan kesempatan kepada kaum ibu untuk memperoleh pengetahuan agama berarti secara tidak langsung memperkuat pendidikan keluarga.
Pandangan tersebut menjadi semakin relevan apabila dikaitkan dengan sejarah pendidikan Aceh pada awal abad ke-20.
Pada 1936, sejumlah ulama Aceh mengadakan pembahasan mengenai pendidikan dan berbagai ilmu pengetahuan. Dalam pertemuan yang dicatat dalam buku Ulama Aceh dalam Melahirkan Human Resource di Aceh, terdapat sejumlah ulama yang membahas hukum mempelajari ilmu pengetahuan umum, kemungkinan memasukkan ilmu umum ke dalam sekolah agama, dan persoalan pendidikan perempuan. Nama Teungku Muhammad Saleh Lambhuk termasuk dalam daftar ulama yang hadir.
Fakta tersebut memberikan gambaran bahwa Abu Lambhuk berada dalam lingkungan ulama yang memikirkan persoalan pendidikan secara luas.
Artinya, pengabdiannya tidak dapat dipersempit hanya sebagai pengajaran kitab klasik.
Ia berada dalam arus pemikiran pendidikan Islam Aceh yang sedang menghadapi perubahan zaman.
Ulama dan Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan
Untuk memahami Abu Lambhuk secara utuh, kita juga harus melihat konteks perjuangan Aceh pada masa kemerdekaan Indonesia.
Pada 1945, ketika Republik Indonesia baru berdiri dan ancaman kembalinya kolonialisme muncul, ulama Aceh memainkan peran penting dalam menggerakkan masyarakat.
Dokumen penelitian sejarah yang diterbitkan melalui repositori pemerintah mencatat bahwa pada November 1945 berlangsung musyawarah ulama di Masjid Raya Baiturrahman. Dalam rangkaian perjuangan tersebut dibentuk Barisan Hisbullah yang kemudian berganti nama menjadi Lasykar Mujahidin. Nama Teungku Muhammad Saleh Lambhuk tercantum dalam susunan Pengurus Besar Hisbullah bersama sejumlah ulama Aceh lainnya.
Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa dunia pendidikan dan perjuangan tidak berdiri dalam dua ruang yang terpisah.
Ulama yang sehari-hari mengajarkan agama juga memiliki kepedulian terhadap nasib masyarakat dan tanah air.
Di sinilah makna pengorbanan Abu Lambhuk menjadi lebih luas.
Ia tidak hanya berjuang melalui kata-kata di ruang pengajian.
Ia berada dalam lingkungan ulama yang ikut mengambil tanggung jawab ketika masa depan bangsa berada dalam keadaan genting.
Namun, penting untuk tidak melebih-lebihkan perannya dengan menyebutnya sebagai komandan perang apabila sumber tidak mendukung klaim tersebut. Posisi yang lebih aman secara historis adalah menyatakan bahwa ia tercatat dalam lingkungan kepemimpinan ulama yang terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Sikap hati-hati semacam ini justru penting agar penghormatan terhadap tokoh sejarah tidak berubah menjadi mitologisasi.
Pengorbanan Abu Lambhuk: Tidak Selalu Berupa Senjata
Ketika membicarakan pengorbanan seorang ulama, masyarakat sering kali membayangkan perang, senjata, atau perjuangan fisik.
Padahal, pengorbanan memiliki banyak bentuk.
Ada orang yang mengorbankan harta.
Ada yang mengorbankan kedudukan.
Ada yang mengorbankan waktu.
Dan ada yang mengorbankan seluruh hidupnya untuk mendidik manusia.
Abu Lambhuk berada pada kategori terakhir.
Ia memilih jalan pendidikan setelah pulang dari Yan. Ia mendirikan dayah, mengajar santri, mengajar masyarakat umum, memberikan perhatian kepada kaum ibu, menjadi imam, dan ikut berada dalam lingkungan perjuangan ulama pada masa kemerdekaan.
Pengabdian seperti itu membutuhkan kesabaran yang tidak sedikit.
Mendidik satu generasi membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Membangun lembaga membutuhkan ketekunan.
Mengajarkan kitab membutuhkan penguasaan ilmu sekaligus kemampuan menjelaskan.
Dan menjaga kepercayaan masyarakat membutuhkan keteladanan.
Karena itu, nilai pengorbanan Abu Lambhuk seharusnya tidak hanya diukur dari peristiwa besar yang dapat ditulis dalam buku sejarah. Ia juga harus dilihat dari rutinitas yang dilakukan berulang-ulang selama puluhan tahun.
Seorang guru mungkin mengajar satu kelas setiap hari.
Tetapi dari kelas itu bisa lahir puluhan orang yang kemudian mengajar ribuan orang lainnya.
Inilah kekuatan pengabdian melalui pendidikan.
Dayah Al-Ishlahiyah dan Warisan Kelembagaan
Salah satu warisan yang masih dapat ditelusuri di Lambhuk adalah hubungan Abu Lambhuk dengan perkembangan Pesantren/Dayah Al-Ishlahiyah Lambhuk dan lingkungan pendidikan serta masjid di kawasan tersebut.
Penelitian Universitas Walisongo mengenai Masjid Al-Ishlahiyah Lambhuk mencatat bahwa masjid tersebut pada awalnya merupakan meunasah sederhana yang dibangun pada 1966 di atas tanah wakaf pesantren Al-Ishlahiyah. Meunasah itu juga digunakan sebagai tempat pengajian ibu-ibu yang dipimpin oleh Tgk. H. Muhammad Saleh atau Abu Lambhuk. Penelitian tersebut juga mencatat adanya hubungan antara bantuan masyarakat dan pesantren dengan perluasan meunasah menjadi masjid.
Data tersebut penting karena menunjukkan bahwa warisan Abu Lambhuk bukan sekadar nama dalam catatan biografi.
Ada jejak kelembagaan.
Ada hubungan antara dayah, masjid, madrasah, dan masyarakat.
Inilah model pendidikan Islam Aceh yang khas: lembaga keagamaan tidak berdiri sendiri. Masjid, dayah, meunasah, guru, santri, keluarga, dan masyarakat membentuk jaringan pendidikan yang saling menopang.
Dengan demikian, kontribusi Abu Lambhuk dapat dilihat sebagai bagian dari proses membangun ekosistem pendidikan masyarakat.
Murid-Murid dan Efek Pengabdian yang Berlipat
Keberhasilan seorang guru tidak hanya dapat dilihat dari jumlah buku yang ditulis.
Ada guru yang karya terbesarnya adalah murid-muridnya.
Sumber biografis mengenai Abu Lambhuk menyebut sejumlah tokoh yang pernah belajar di dayahnya, antara lain Prof. Teungku Ali Hasjmy, Teungku Ibnu Sa'dan, Prof. A. Majid Ibrahim, Teungku Ali Balwy, dan Teungku Drs. Zakaria Yatim.
Nama-nama tersebut memperlihatkan bahwa lingkungan pendidikan Abu Lambhuk memiliki dampak yang melampaui kampung Lambhuk.
Di sinilah konsep multiplier effect pendidikan dapat digunakan untuk memahami warisannya.
Seorang guru mengajar seratus murid.
Dari seratus murid itu mungkin lahir sepuluh guru.
Sepuluh guru tersebut mengajar seribu orang.
Dari seribu itu lahir generasi berikutnya.
Maka sebuah pengajian kecil dapat berkembang menjadi pengaruh sosial yang sangat besar.
Abu Lambhuk tidak harus memiliki ratusan buku untuk disebut sebagai intelektual. Ia membangun manusia yang kemudian membawa ilmu tersebut ke ruang yang lebih luas.
Itulah salah satu bentuk karya yang sering tidak tercatat dalam bibliografi.
Karya Abu Lambhuk: Antara Kitab, Pengajaran, dan Warisan Keilmuan
Berbicara tentang karya Abu Lambhuk memerlukan kehati-hatian.
Tidak seperti sebagian ulama Aceh lain yang memiliki daftar kitab karangan yang relatif mudah ditemukan, sumber yang dapat diverifikasi mengenai Abu Lambhuk lebih banyak menyoroti pengajaran, dayah, jaringan murid, aktivitas keagamaan, dan pengabdiannya, bukan daftar lengkap karya tulis yang ditulis dan diterbitkannya.
Karena itu, tidak tepat apabila setiap kitab yang beliau ajarkan disebut sebagai karya tulis beliau.
Sumber biografis mencatat bahwa dalam pengajiannya digunakan kitab-kitab seperti Riyadhus Shalihin, Kifayatul Akhyar, Tafsir Jalalain, Nashaih Diniyah, serta Kitab Lapan. Kitab-kitab tersebut merupakan karya ulama lain atau kumpulan karya ulama Aceh, sehingga harus disebut sebagai rujukan pengajaran, bukan karya pribadi Abu Lambhuk.
Justru dari sini kita dapat memahami konsep karya seorang ulama secara lebih luas.
Karya Abu Lambhuk setidaknya dapat dilihat dalam beberapa bentuk.
Pertama, karya pendidikan.
Ia mendirikan dan mengembangkan dayah di Lambhuk serta mengajar santri dan masyarakat.
Kedua, karya dakwah.
Ia menghidupkan pengajian dan menjadikan masjid serta meunasah sebagai ruang pembelajaran masyarakat.
Ketiga, karya kaderisasi.
Ia melahirkan murid yang kemudian berkiprah di berbagai bidang.
Keempat, karya sosial.
Ia membangun hubungan dengan masyarakat dan para dermawan untuk mendukung kegiatan keagamaan.
Kelima, karya pemikiran.
Keterlibatannya dalam lingkungan ulama yang membahas pendidikan pada 1936 menunjukkan bahwa ia berada dalam arus pemikiran yang tidak memisahkan pendidikan agama dari kebutuhan kemajuan masyarakat.
Dengan demikian, warisan Abu Lambhuk tidak semestinya diukur hanya dari jumlah manuskrip.
Corak Keilmuan: Tradisi yang Tidak Menutup Pintu Pembaruan
Dari kitab-kitab yang digunakan dalam pengajarannya, terlihat bahwa Abu Lambhuk berdiri dalam tradisi Islam Sunni bermazhab Syafi'i yang kuat.
Namun, tradisional tidak identik dengan tertutup.
Tradisi justru dapat menjadi fondasi untuk menghadapi perubahan.
Ia mempertahankan kitab-kitab klasik, tetapi mengajarkan masyarakat luas. Ia mengembangkan pendidikan dayah, tetapi juga hidup dalam masa ketika pendidikan modern berkembang. Ia mengajarkan fikih, hadis, tafsir, dan akhlak, tetapi pada saat yang sama berada dalam lingkungan ulama yang membicarakan persoalan pendidikan umum dan pendidikan perempuan.
Inilah salah satu sisi menarik dari Abu Lambhuk.
Ia dapat dipahami sebagai ulama yang berakar kuat pada tradisi tetapi tidak kehilangan perhatian terhadap kebutuhan masyarakat.
Sikap seperti ini sangat relevan bagi pendidikan Islam masa kini.
Modernisasi tidak selalu berarti meninggalkan tradisi.
Sebaliknya, tradisi yang sehat dapat menjadi fondasi agar pembaruan tidak kehilangan arah.
Abu Lambhuk sebagai Ulama yang Dekat dengan Rakyat
Gelar "Abu" dalam tradisi masyarakat Aceh bukan hanya menunjukkan usia atau kedudukan. Ia mengandung penghormatan terhadap seorang ulama yang dianggap memiliki ilmu dan menjadi tempat bertanya.
Abu Lambhuk mendapatkan penghormatan tersebut karena hubungan dekatnya dengan masyarakat.
Ia tidak membangun jarak antara ulama dan rakyat.
Pengajian dibuka bagi masyarakat.
Kaum ibu mendapat ruang belajar.
Masjid menjadi tempat pengabdian.
Dayah menjadi tempat kaderisasi.
Hubungan dengan para dermawan digunakan untuk mendukung kegiatan agama.
Semua itu memperlihatkan bahwa kepemimpinan Abu Lambhuk bersifat sosial sekaligus spiritual.
Seorang ulama yang hanya pandai membaca kitab tetapi tidak mampu memahami persoalan masyarakat akan sulit menjadi pemimpin umat.
Sebaliknya, Abu Lambhuk menunjukkan bahwa ilmu harus hadir dalam kehidupan nyata.
Akhir Hayat: Pergi sebagai Guru, Tinggal sebagai Warisan
Setelah menjalani puluhan tahun pengabdian, Abu Lambhuk wafat pada 1969. Sumber biografis yang tersedia menyebut tahun tersebut sebagai tahun wafatnya. Namun, dibandingkan beberapa tokoh Aceh lain, informasi daring yang tersedia mengenai tanggal dan detail akhir hayatnya masih relatif terbatas. Karena itu, penyebutan tahun 1969 sebaiknya dipertahankan dengan catatan bahwa sumber yang digunakan merupakan sumber biografis sekunder.
Kematian seorang ulama tidak serta-merta mengakhiri pengaruhnya.
Justru bagi seorang guru, kematian merupakan pergantian generasi.
Tubuhnya berhenti mengajar.
Tetapi murid-muridnya terus mengajar.
Suara pengajiannya berhenti terdengar.
Tetapi ilmu yang diajarkannya terus dibicarakan.
Langkahnya berhenti.
Tetapi lembaga pendidikan yang pernah dibangunnya tetap menjadi ruang belajar.
Dalam pengertian inilah Abu Lambhuk meninggalkan warisan yang jauh lebih panjang daripada usia biologisnya.
Mengapa Abu Lambhuk Layak Dikenang?
Ada alasan kuat mengapa nama Abu Lambhuk perlu ditempatkan kembali dalam narasi sejarah Aceh.
Pertama, ia merupakan bagian dari generasi ulama yang mengalami masa transisi dari kolonialisme menuju Indonesia merdeka.
Kedua, ia merupakan bagian dari jaringan intelektual Aceh-Melayu yang terhubung dengan pusat pendidikan Islam di Yan, Kedah.
Ketiga, ia mendirikan dayah dan mengabdikan ilmu kepada masyarakat setelah kembali ke Aceh.
Keempat, ia dikenal sebagai imam Masjid Raya Baiturrahman.
Kelima, namanya tercatat dalam lingkungan ulama yang terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Keenam, ia memberi perhatian kepada pendidikan masyarakat umum dan kaum perempuan.
Ketujuh, ia meninggalkan jaringan murid yang kemudian berperan dalam kehidupan intelektual dan sosial Aceh.
Dengan kata lain, Abu Lambhuk merupakan contoh bahwa sejarah bangsa tidak hanya dibentuk oleh tokoh yang memegang jabatan resmi.
Sejarah juga dibentuk oleh guru.
Pelajaran Abu Lambhuk untuk Generasi Sekarang
Apa yang dapat dipelajari generasi sekarang dari Abu Lambhuk?
Jawabannya bukan sekadar "jadilah ulama".
Pesan yang lebih universal adalah: jadikan ilmu sebagai pengabdian.
Pada zaman sekarang, pengetahuan sering dipandang sebagai alat untuk memperoleh pekerjaan, jabatan, popularitas, atau kekayaan. Semua itu tidak salah. Namun, ilmu memiliki dimensi yang lebih tinggi apabila digunakan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat.
Abu Lambhuk menunjukkan prinsip tersebut.
Ia belajar.
Ia kembali.
Ia mengajar.
Ia membangun.
Ia membimbing.
Ia meninggalkan murid.
Siklus tersebut sederhana, tetapi dampaknya luar biasa.
Generasi sekarang juga dapat mengambil pelajaran dari cara ia membangun pendidikan masyarakat. Di tengah perkembangan teknologi, pendidikan tidak boleh kehilangan hubungan dengan komunitas. Sekolah, pesantren, masjid, keluarga, dan masyarakat perlu kembali dipandang sebagai jaringan yang saling melengkapi.
Warisan Abu Lambhuk juga mengajarkan pentingnya menghargai guru.
Sering kali sejarah mencatat nama orang yang menduduki jabatan tinggi, tetapi melupakan orang yang mendidik mereka.
Padahal, setiap generasi pemimpin hampir selalu lahir dari tangan seorang guru.
Menempatkan Abu Lambhuk dalam Sejarah Pendidikan Aceh
Apabila sejarah pendidikan Aceh ditulis secara lebih lengkap, Abu Lambhuk seharusnya tidak ditempatkan sebagai catatan kaki.
Ia merupakan bagian dari generasi ulama yang mempertahankan kesinambungan dayah ketika struktur sosial Aceh berubah.
Perannya menjadi semakin penting karena ia berada pada persimpangan beberapa zaman: warisan pendidikan tradisional, pengalaman kolonial, kebangkitan organisasi ulama, perjuangan kemerdekaan, dan pembentukan masyarakat Indonesia setelah 1945.
Buku Ulama Aceh dalam Melahirkan Human Resource di Aceh menunjukkan betapa besar peranan ulama dalam pembentukan sumber daya manusia Aceh. Dalam konteks tersebut, pendidikan agama tidak hanya menghasilkan ahli agama, tetapi juga membentuk manusia yang kemudian berkiprah dalam pemerintahan, pendidikan, masyarakat, dan kehidupan publik. Nama Muhammad Saleh Lambhuk muncul dalam pembahasan jaringan ulama yang memikirkan pendidikan Aceh.
Karena itu, kontribusi Abu Lambhuk dapat dibaca sebagai bagian dari sejarah pembentukan manusia Aceh modern.
Sejarah yang Harus Ditulis dengan Jujur
Ada satu hal penting yang perlu ditekankan ketika menulis tentang tokoh seperti Abu Lambhuk.
Penghormatan kepada tokoh sejarah tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan ketelitian.
Tidak semua cerita yang beredar secara lisan dapat langsung dianggap fakta historis. Tidak semua gelar, kisah karamah, jumlah murid, ataupun cerita perjuangan memiliki bukti tertulis yang sama kuat.
Justru cara terbaik menghormati Abu Lambhuk adalah menempatkan setiap informasi sesuai tingkat kepastian sumbernya.
Fakta bahwa ia belajar di Yan, kembali ke Aceh, mendirikan dayah, menjadi imam Masjid Raya Baiturrahman, mengajar masyarakat, dan terhubung dengan jaringan ulama perjuangan memiliki dukungan sumber yang dapat ditelusuri.
Sementara itu, detail tertentu tentang tanggal kelahiran, daftar lengkap karya tulis, atau rincian setiap fase hidupnya masih memerlukan penelitian arsip dan manuskrip lebih lanjut.
Keterbatasan sumber bukan berarti tokohnya tidak penting.
Justru keterbatasan itulah yang menunjukkan bahwa penelitian tentang Abu Lambhuk masih terbuka luas.
Kesimpulan: Ulama yang Menjadikan Ilmu sebagai Jalan Pengabdian
Teungku Muhammad Saleh atau Abu Lambhuk adalah salah satu ulama Aceh yang kehidupannya menunjukkan hubungan erat antara ilmu, pendidikan, dakwah, masyarakat, dan perjuangan.
Ia diperkirakan lahir sekitar 1890 dalam keluarga ulama. Sejak kecil ia mendapatkan pendidikan agama dari ayahnya. Setelah itu ia menempuh pengembaraan ilmu ke Yan, Kedah, sebuah pusat pendidikan Islam yang juga menjadi tempat berkumpulnya sejumlah ulama Aceh. Setelah bertahun-tahun belajar, ia kembali ke Aceh pada 1916.
Dua tahun kemudian, sekitar 1918, ia mendirikan dayah di Lambhuk.
Keputusan itu menjadi titik penting dalam sejarah hidupnya.
Ia memilih mendidik.
Ia memilih mengabdi.
Ia memilih membangun manusia.
Pengabdiannya kemudian berkembang melalui pengajaran kitab, pembinaan santri, pendidikan masyarakat umum, pengajian kaum ibu, kegiatan masjid, dan keterlibatan dalam jaringan ulama. Ia juga dikenal sebagai imam Masjid Raya Baiturrahman dan tercatat sebagai bagian dari lingkungan ulama yang terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada 1945.
Warisan terbesarnya bukan sekadar sebuah bangunan.
Bukan pula sebuah jabatan.
Warisan terbesarnya adalah ilmu yang berpindah dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Dalam dunia yang semakin mengukur keberhasilan melalui angka, jabatan, jumlah pengikut, dan popularitas, kisah Abu Lambhuk menawarkan ukuran yang berbeda.
Seberapa banyak manusia yang menjadi lebih baik karena ilmu kita?
Seberapa banyak anak yang mendapatkan pendidikan?
Seberapa banyak masyarakat yang memperoleh manfaat?
Seberapa jauh nilai yang kita ajarkan tetap hidup setelah kita tiada?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita kepada inti perjalanan Abu Lambhuk.
Ia tidak hidup untuk menjadi terkenal.
Ia belajar agar dapat mengajar.
Ia mengajar agar masyarakat berilmu.
Ia mendidik agar lahir generasi penerus.
Dan ketika akhirnya ia meninggalkan dunia pada 1969, pekerjaannya belum selesai. Murid-muridnya masih membawa ilmu. Lembaga pendidikan masih menjadi tempat belajar. Masjid masih menjadi tempat ibadah. Dan nama Lambhuk masih mengingatkan masyarakat kepada seorang ulama yang pernah menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian.
Karena itu, Teungku Muhammad Saleh Abu Lambhuk patut dikenang bukan hanya sebagai ulama besar Aceh, tetapi sebagai seorang pendidik yang memahami bahwa membangun manusia adalah bentuk perjuangan yang paling panjang.
Pedang mungkin dapat memenangkan sebuah pertempuran.
Kekuasaan mungkin dapat mengubah sebuah pemerintahan.
Tetapi ilmu dapat mengubah generasi.
Dan Abu Lambhuk memilih jalan ilmu.
Daftar Referensi
Muhammad Thalal, Fauzi Saleh, Jabbar Sabil, dkk. Ulama Aceh dalam Melahirkan Human Resource di Aceh. Banda Aceh: Yayasan Aceh Mandiri, 2010. Buku ini merupakan hasil penelitian tentang kontribusi ulama Aceh dalam pembentukan sumber daya manusia dan memuat pembahasan mengenai jaringan ulama serta pemikiran pendidikan Aceh.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Peranan Tokoh Agama dalam Perjuangan Kemerdekaan 1945–1950 di Aceh. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sumber ini penting untuk menelusuri keterlibatan ulama Aceh dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, termasuk pencantuman nama Teungku Muhammad Saleh Lambhuk dalam struktur Hisbullah Aceh.
Aziz Al Abrar. Analisis Pelaksanaan Pengukuran Arah Kiblat Masjid Al-Ishlahiyah Lambhuk. Skripsi, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. Penelitian ini memberikan data mengenai sejarah Masjid Al-Ishlahiyah Lambhuk, hubungan pesantren, meunasah, pengajian masyarakat, serta peran Tgk. H. Muhammad Saleh/Abu Lambhuk.
Nurkhalis Mukhtar El-Sakandary. “Abu Lambhuk: Ulama Kuta Raja Banda Aceh Lulusan Yan Kedah Malaysia.” Jaringan Santri, 27 April 2020. Sumber biografis ini digunakan untuk informasi mengenai keluarga, perkiraan tahun kelahiran, perjalanan pendidikan ke Yan, kepulangan pada 1916, pendirian dayah sekitar 1918, bahan pengajaran, murid, dan tahun wafat 1969.
Haslinda Binti Haji Hassan. Peranan dan Sumbangan Masyarakat Aceh di Kedah dari Tahun 1900–2000. Kajian ini berguna untuk memahami konteks migrasi dan jaringan pendidikan masyarakat Aceh di Yan, Kedah serta hubungan ulama Aceh dengan pusat pendidikan Islam di Semenanjung Melayu.
Mahkamah Syar'iyah Lhoksukon. “Sejarah Perkembangan Peradilan Agama di Aceh Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan.” Sumber kelembagaan ini digunakan sebagai pembanding dalam memahami perkembangan struktur keagamaan Aceh setelah kemerdekaan.
A. Hasjmy. Bunga Rampai Revolusi dari Tanah Aceh. Jakarta: Bulan Bintang, 1978. Karya ini relevan sebagai referensi umum mengenai sejarah perjuangan, ulama, dan perkembangan sosial-keagamaan Aceh.
Ali Koto. Persatuan Tarbiyah Islamiyah: Sejarah, Paham Keagamaan, dan Pemikiran Politik 1945–1970. Jakarta: Rajawali Pers. Karya ini dapat digunakan untuk memperluas kajian mengenai dinamika organisasi dan pemikiran keislaman Aceh serta hubungan ulama dengan perkembangan politik Indonesia.
Catatan Akademik
Informasi mengenai Abu Lambhuk masih membutuhkan penelitian lebih lanjut, terutama mengenai tanggal lahir yang pasti, silsilah keluarga secara lengkap, daftar karya tulis pribadi, sanad keilmuan, metode pengajaran, jumlah dan identitas murid, serta tanggal wafat yang lebih rinci. Karena itu, tulisan ini membedakan antara fakta yang didukung sumber tertulis, informasi dari sumber biografis sekunder, dan interpretasi argumentatif penulis.
Pendekatan tersebut sengaja digunakan agar tulisan tidak berubah menjadi legenda yang tidak teruji. Bagi artikel sejarah yang ditujukan untuk pembaca internet, kejujuran mengenai batas sumber justru meningkatkan nilai informasinya. Artikel sejarah yang baik bukan artikel yang membuat semua hal terdengar pasti, melainkan artikel yang mampu menunjukkan mana yang diketahui, mana yang didukung sumber, dan mana yang masih membutuhkan penelitian.