Di Layar yang Melengkung, Pesan Itu Tak Pernah Terkirim

Cerita Fiksi Naratif Panjang

Pagi itu datang tanpa tanda apa pun. Tidak ada petir, tidak ada firasat. Hanya cahaya matahari yang memantul di kaca jendela kamar kontrakan Raka, memantul pula di layar ponsel yang tergeletak miring di samping bantalnya. Layar itu melengkung di sisi kanan dan kiri, seperti tepian sungai yang tenang namun licin. Di sanalah, pada kelengkungan kecil yang nyaris tak terasa itu, hidup Raka mulai bergeser pelan-pelan.

Raka bukan orang yang mudah terpikat teknologi. Ia membeli ponsel baru bukan karena tren, melainkan karena ponsel lamanya sering mati mendadak. Baterai yang cepat habis, layar yang retak di sudut kiri, dan pesan-pesan yang kadang tak terkirim membuatnya lelah. Ia bekerja sebagai penulis lepas konten digital, hidup dari tenggat dan koneksi internet yang stabil. Ponsel baginya adalah alat kerja, bukan simbol status.

Namun ketika pramuniaga di sebuah gerai kecil menyodorkan ponsel dengan layar melengkung itu, Raka sempat terdiam. Layarnya tampak luas, bersih, dan modern. Saat dinyalakan, cahaya tampil lebih hidup, seolah setiap kata memiliki napas sendiri. Ia tidak tahu apa itu edge display, tidak terlalu peduli juga. Yang ia tahu, ponsel itu terasa nyaman digenggam dan cukup terjangkau untuk tabungannya yang pas-pasan.

Ia membelinya.

Dan sejak hari itu, hidup Raka mulai dipenuhi detail-detail kecil yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.

Hubungan Raka dan Nara sudah berjalan hampir empat tahun. Mereka bertemu pertama kali di sebuah diskusi literasi di perpustakaan kota, duduk bersebelahan tanpa sengaja, lalu berbincang tentang buku-buku yang tak laku di pasaran tapi mengubah hidup pembacanya. Nara adalah editor lepas, perempuan yang teliti, tenang, dan punya kebiasaan membaca pesan dua kali sebelum membalas.

Hubungan mereka dibangun oleh kata-kata. Pesan panjang, diskusi larut malam, perdebatan kecil tentang pilihan kata, dan emoji yang digunakan seperlunya. Mereka jarang bertengkar besar. Jika ada masalah, biasanya selesai lewat obrolan yang jujur.

Sampai suatu sore di bulan Mei.

Nara mengirim pesan ketika Raka sedang menunggu klien di sebuah kafe. Pesan itu sederhana:

“Kita bisa ngobrol nanti malam? Ada hal penting.”

Raka membaca cepat. Tangannya sedikit basah oleh embun gelas kopi. Ia berniat membalas:

“Bisa. Jam berapa?”

Namun ketika ibu jarinya bergerak di layar, ponsel sedikit bergeser. Lengkungan layar menangkap sentuhan yang tak ia sadari. Huruf-huruf berubah. Kalimat yang terkirim bukan yang ia maksud.

“Kalau capek, kita sudahi saja.”

Raka tidak langsung menyadari kesalahan itu. Ia mengunci layar, menyimpan ponsel ke dalam saku, dan memusatkan perhatian pada klien yang baru datang. Obrolan berlangsung sekitar empat puluh menit. Ketika selesai, Raka membuka kembali ponselnya.

Pesan dari Nara sudah ada. Bukan satu, melainkan tiga.

“Raka, maksudmu apa?”
“Kalau kamu mau jujur, katakan langsung.”
“Aku kira kita sepakat untuk tidak bicara seperti itu lewat pesan.”

Dada Raka terasa mengempis. Ia membaca ulang pesan yang ia kirim. Barulah ia sadar.

Jarinya gemetar. Ia segera mengetik balasan panjang, menjelaskan bahwa itu salah sentuh, salah ketik, bahwa ia tidak bermaksud demikian. Ia menulis dengan tergesa, kata-kata bertumpuk, perasaan bercampur.

Namun sekali lagi, layar itu berkhianat dengan cara yang sangat halus.

Pesan panjang itu tidak terkirim utuh. Entah karena jaringan yang melemah, entah karena sentuhan tak sengaja di tepi layar, pesan itu terkirim terpotong.

“…mungkin memang sudah terlalu lama kita memaksakan…”

Raka menatap layar, merasa seperti baru saja menjatuhkan gelas kaca yang tak bisa direkatkan kembali.

Malam itu, Nara tidak menghubungi lagi.

Raka mencoba menelepon. Tidak diangkat. Ia mengirim pesan suara, menjelaskan dengan suara bergetar. Pesan itu terkirim, tapi hanya dibaca keesokan harinya. Tidak ada balasan.

Hari-hari berikutnya dipenuhi keheningan yang asing. Raka menulis seperti biasa, menyelesaikan pesanan klien, tapi pikirannya tidak pernah benar-benar hadir. Ia membuka percakapan lama dengan Nara, membaca ulang pesan-pesan mereka dari tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada tanda bahwa hubungan mereka akan retak seperti ini.

Ia mulai menyalahkan dirinya sendiri. Mengapa tidak lebih berhati-hati? Mengapa membalas pesan penting di tempat ramai? Mengapa mengandalkan layar kecil untuk hal-hal besar?

Di sisi lain kota, Nara membaca ulang pesan-pesan itu dengan perasaan campur aduk. Ia mengenal Raka, mengenal gaya bahasanya, tapi potongan-potongan kalimat yang diterimanya terasa asing. Terlalu dingin. Terlalu menyerah.

Ia mencoba berpikir logis, tapi emosi sering kali tidak memberi ruang bagi logika.

Beberapa minggu berlalu. Mereka akhirnya bertemu, bukan untuk berdamai, melainkan untuk mengakhiri dengan cara yang lebih jelas. Pertemuan itu singkat, canggung, dan penuh jeda.

“Aku merasa kamu sudah pergi lebih dulu,” kata Nara pelan.

Raka ingin mengatakan bahwa ia tidak pernah pergi. Bahwa ia masih di tempat yang sama. Bahwa semua ini bermula dari satu kesalahan kecil. Namun kata-kata itu terasa lemah ketika diucapkan langsung.

Teknologi, yang selama ini menjadi jembatan komunikasi mereka, kini menjadi jurang.

Mereka berpisah tanpa amarah, tapi dengan kelelahan.

Namun hidup tidak berhenti pada satu perpisahan.

Hari-hari Raka setelah itu berjalan seperti kereta yang tetap melaju meski salah satu rodanya sedikit oleng. Ia bangun pagi, menyeduh kopi instan, membuka laptop, dan mulai mengetik. Klien-klien tidak peduli apakah hatinya sedang berantakan atau tidak. Algoritma mesin pencari juga tidak pernah bertanya soal perasaan.

Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil yang dulu ia abaikan: cara orang-orang memandangi layar lebih lama dari wajah manusia di depannya. Cara jari bergerak cepat, nyaris tanpa pikir.

Nara menenggelamkan diri dalam pekerjaan penyuntingan. Ironisnya, ia membantu orang lain menyampaikan pesan dengan jernih, sementara pesan terpenting dalam hidupnya sendiri pernah hancur karena ketidakjelasan.

Suatu hari, Nara menerima sebuah naskah cerita pendek bertema teknologi dan hubungan manusia. Ia membacanya sebagai editor, tetapi merasakannya sebagai manusia. Cerita tentang layar melengkung dan pesan yang gagal sampai.

Ia berhenti membaca di tengah, menarik napas panjang. Ia sadar, selama ini ia memegang satu versi cerita terlalu erat.

Raka tidak pernah berniat mengirim cerita itu kepadanya. Ia memublikasikannya di ruang terbuka. Ia percaya, jika ada pesan yang memang harus sampai, ia akan menemukan jalannya sendiri.

Beberapa minggu kemudian, sebuah surel masuk.

“Aku membaca ceritamu. Terima kasih sudah menuliskannya.”

Raka membacanya berulang kali. Ia membalas dengan pelan, tanpa tergesa.

“Aku menulisnya untuk mengerti, bukan untuk membenarkan.”

Mereka tidak kembali seperti dulu. Tidak ada janji besar. Hanya percakapan yang lebih jujur dan lebih pelan.

Suatu sore, mereka bertemu di kafe yang sama. Ponsel diletakkan terbalik di atas meja.

“Lucu ya,” kata Nara, “kita dulu percaya pesan singkat bisa menampung segalanya.”

Raka tersenyum. “Sekarang aku percaya, beberapa hal harus disampaikan langsung.”

Malam itu, Raka menulis di catatan pribadinya:

Teknologi mempercepat hidup, tapi manusialah yang menentukan arah.

Ia mematikan layar ponsel, membiarkan dunia berjalan tanpa perantara.

Karena dari layar yang melengkung itu, ia belajar bahwa pesan terpenting bukan yang paling cepat terkirim, melainkan yang paling utuh dipahami.

Tamat

Belum ada Komentar untuk "Di Layar yang Melengkung, Pesan Itu Tak Pernah Terkirim"

Posting Komentar

Top Ad Articles

Middle ad article 1

Middle ad article 2

Iklan under Artikel