Biografi Teungku Syekh Peusangan: Ulama, Pendidik & Pengusaha Inspiratif
Silsilah Keluarga & Latar Belakang

Teungku Panglima Bëude memiliki tiga istri dan tiga belas anak. Dengan Cut Pudoe—istri pertama—Beliau dikaruniai dua anak: Teungku Bulang dan Teungku Hamzah (yang kelak menjadi Teungku Syekh Peusangan). Anak-anak lainnya lahir dari Cut Hamidah (istri kedua) dan Cut Peeh (istri ketiga).
Pendidikan Awal
Sejak kecil, Teungku Hamzah dibekali ilmu agama. Ayahanda menitipkan beliau kepada para ulama setempat untuk belajar Al-Qur’an dan dasar-dasar agama. Setelah menamatkan Volkschool di Jangka selama tiga tahun, Hamzah melanjutkan ke Dayah Kuta Blang Samalanga. Di sana ia berguru kepada Teungku Haji Abdul Djalil—dikenal pula sebagai Teungku Awee Geutah atau Teungku Kuta Blang—yang menekuni ilmu nahwu, sharaf, fiqh, dan tasawuf.
Keluarga & Kehidupan Bermasyarakat
Pada 1916, Teungku Hamzah kembali ke kampung halaman di Gampong Lueng. Setahun kemudian, ia menikah dengan Cut Farida asal Gampong Pante Ara, Peusangan, dan menetap di Balee Seutui, Kecamatan Peusangan. Dari pernikahan pertama, lahir enam anak: M. Daud Hamzah; Abdullah Hamzah (Alumni PTAIN Yogyakarta, 1956); Muhammad Nur Hamzah, MA (Alumni Universitas Moskow, Rusia); Khadijah; dan Aisyah Hamzah (Alumni Al-Muslim Peusangan).
Istri kedua, Ummiah Ahmad dari Kuala Raja, melahirkan lima anak: M. Ali Hamzah; Zubaidah; Drs. Muchtaruddin Hamzah; Hanafiah; dan Mamfarisyah.
Kiprah di Bidang Pendidikan, Politik, & Organisasi
Keahlian berpidato dan semangat dakwah membuat Tgk. Hamzah aktif tampil di majelis-majelis umum di Peusangan hingga Indrapuri. Usai menyampaikan ceramah di Indrapuri, para ulama menganugerahi gelar Teungku Syekh Peusangan. Gelar tersebut kemudian dipertegas oleh Teuku Haji Chik Muhammad Johan Alamsyah (Ampon Chiek Peusangan) dengan aturan: siapa saja yang tidak menyebut Tgk. Hamzah dengan gelar itu wajib membayar denda satu ringgit.
Di Balee Seutui, beliau memprakarsai pembangunan Masjid Bale Seutui pada 1925. Meski saat itu ukuran masjid hanya 10 × 10 m, kehadirannya sangat berarti bagi warga. Setelah wafat pada 1953, masjid sempat diperluas menjadi 16 × 13 m.
Pada 1926, Teungku Syekh mendirikan Madrasah At-Tarbiyah di samping masjid. Sehari setelah pendirian, madrasah ini menerima murid pertama, dengan kurikulum mencakup tauhid, fiqh, nahwu, sharaf, sejarah Islam, dan ilmu bumi. Para pengajar antara lain Tgk. Syekh Peusangan sendiri, Ustadz Mahyiddin Yusuf, Guru Yusuf, Teungku Daud Abbas (Teungku Blang), Teungku Puteh, dan Teungku Muhammad Jamil.
Setahun kemudian, pada 1929, lahirlah Madrasah Al-Muslim. Berkat dukungan masyarakat—banyak dermawan yang menyumbang—madrasah ini pun berkembang pesat. Teungku Syekh menekankan peran remaja dan membentuk kelompok kesenian sebagai wadah dakwah kreatif.
Wirausaha & Pelayanan Sosial
Selain sebagai ulama, Teungku Syekh Peusangan juga sukses di bidang usaha. Ia berdagang kain batik, membuka warung kopi dan nasi, berbisnis kayu, menjadi kontraktor jalan, nelayan, hingga petani. Usahanya membuka banyak lapangan pekerjaan dan membantu meringankan beban masyarakat kurang mampu.
Di samping mencari nafkah, beliau tak henti-hentinya berdakwah pada para pekerja, mengajarkan praktik ibadah mahdhah dan ibadah sosial. Proyek pembangunan jembatan dan bendungan di Jangka Alue Bie pada 1952, serta pendirian meunasah di Geulanggang Teungoh, Kota Juang, menjadi bukti konkrit kontribusinya.
Warisan & Penghargaan
Melalui dedikasi di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial, Teungku Syekh Peusangan meninggalkan warisan abadi:
-
Masjid Bale Seutui: pusat ibadah dan silaturahmi hingga hari ini.
-
Madrasah At-Tarbiyah & Al-Muslim: lembaga pendidikan Islam awal di Peusangan.
-
Infrastruktur: jembatan dan bendungan di Jangka Alue Bie yang mendukung perekonomian lokal.
Catatan: Lihat Kembali buku Biografi Ulama-Ulama Aceh Abad XX (Jilid I) karya Shabri A. dkk. Jika ada kesalahan mohon saran/masukan dan kritikan.
Belum ada Komentar untuk "Biografi Teungku Syekh Peusangan: Ulama, Pendidik & Pengusaha Inspiratif"
Posting Komentar