Legenda Selendang Bidadari dan Sang Pemburu Sunyi
Sebuah Penceritaan Ulang Legenda Putroe Bungsu dan Malem Diwa dari Tanah Aceh

Bagian 1: Langit dan Kejora
Di puncak tertinggi cakrawala, di sebuah alam yang tak tersentuh oleh debu bumi dan keluh kesah manusia, terbentanglah Kerajaan Kayangan. Alam itu ditenun dari benang-benang cahaya fajar dan disulam dengan permata-permata bintang. Di sinilah, di antara taman-taman awan kapas dan sungai-sungai susu galaksi, tinggallah tujuh putri raja langit.
Mereka adalah bidadari, wujud kesempurnaan yang tugasnya hanya satu: menenun pelangi setelah badai reda di alam manusia.
Enam putri tertua adalah perwujudan keagungan. Rambut mereka adalah malam pekat yang berkilauan, tawa mereka adalah musik alam semesta. Mereka disiplin, agung, dan sadar akan keilahian mereka.
Lalu, ada yang ketujuh. Namanya Putroe Bungsu.
Ia berbeda. Jika kakak-kakaknya adalah bintang kejora yang angkuh di puncaknya, Bungsu adalah embun pagi di pucuk daun. Ia yang termuda, yang paling pendiam, namun matanya menyimpan rasa ingin tahu yang tak terhingga. Sementara kakak-kakaknya menyempurnakan tarian kosmik mereka, Bungsu lebih sering duduk di birai awan, menatap ke bawah.
Ia tidak melihat 'bumi'. Ia melihat permadani hijau giok yang diselingi safir cair. Ia melihat gumpalan-gumpalan kapas putih—asap dari rumah-rumah kecil—dan ia bertanya-tanya. Seperti apa rasanya hangat? Seperti apa bau tanah setelah hujan? Di Kayangan, hujan adalah nyanyian; di bumi, ia dengar, hujan adalah kehidupan.
"Bungsu, jangan terlalu sering memandang ke bawah," tegur kakaknya, Putroe Sulung, suatu senja. "Itu alam fana. Tempat di mana segala sesuatu dimulai dan berakhir. Tempat kerapuhan. Kita abadi. Jangan kotori pandanganmu dengan kefanaan."
Bungsu hanya tersenyum tipis. "Tapi, Kakanda, jika pelangi yang kita tenun menyentuh bumi mereka, tidakkah kita juga bagian dari kefanaan itu? Kita menyentuh mereka, meski mereka tak bisa menyentuh kita."
Sulung menghela napas. Adiknya memang pemikir.
Suatu hari, saat mereka selesai menenun pelangi di atas ufuk Tanah Gayo, Bungsu mendengar sesuatu yang belum pernah ia dengar. Bukan musik surgawi, bukan desau angin kosmik. Itu adalah... tangisan.
Sebuah melodi pilu yang naik dari lembah yang baru saja mereka sirami cahaya. Itu suara seruling bambu, dimainkan dengan napas yang sarat akan kesepian.
"Apa itu?" bisik Bungsu.
"Hanya angin," jawab Putroe Kedua, menarik selendang pelangi miliknya. "Ayo pulang. Senja di alam baka akan segera tiba."
Namun Bungsu tak bergeming. Ia membiarkan melodi itu menyentuh hatinya. Untuk pertama kali dalam keabadiannya, Putroe Bungsu merasakan sesuatu yang asing: empati. Dan rasa ingin tahu itu kini memiliki arah. Ia ingin tahu siapa yang memainkan musik sesunyi itu.
Bagian 2: Sunyi di Hulu Sungai
Jauh di bawah birai awan tempat Bungsu termenung, di sebuah lembah subur yang diapit oleh pegunungan Leuser, hiduplah seorang pemuda. Namanya Malem Diwa.
Ia bukan pemuda biasa. Ia adalah putra seorang raja kecil yang memilih untuk tidak hidup di istana. Malem Diwa adalah penjelajah, pemburu, dan penyendiri. Istana, baginya, adalah sangkar emas yang penuh dengan basa-basi. Hutan adalah rumahnya yang sejati.
Ia mengenal setiap jejak rusa, memahami bahasa kera, dan tahu di mana mata air terbersih mengalir. Kulitnya legam terbakar matahari, lengannya kokoh karena menarik busur, dan matanya setajam elang.
Namun, di balik kegagahannya, Malem Diwa menyimpan sunyi yang pekat.
Ayahnya ingin ia menikah, meneruskan takhta. Para gadis bangsawan di kotaraja berlomba mencari perhatiannya. Tapi Malem Diwa melihat mereka seperti burung-burung merak yang cantik namun kosong. Ia mencari sesuatu yang lain, sesuatu yang bahkan ia sendiri tak tahu apa.
Malam itu, setelah seharian melacak babi hutan, ia duduk di tepi sungai. Ia mengambil seruling bambu kesayangannya. Sambil menatap bulan yang separuh tertutup kabut, ia meniupkan segala kerinduannya. Ia memainkan melodi tentang elang yang terbang sendirian, tentang puncak gunung yang merindukan awan, tentang hati seorang pemburu yang sepi di tengah riuhnya hutan.
Ia tidak tahu, di langit yang tak terjangkau, melodi itu didengar oleh makhluk yang ditenun dari cahaya bintang.
Keesokan harinya, Malem Diwa merasa gelisah. Ia merasa 'dipanggil'. Bukan oleh ayahnya, bukan oleh hutan. Tapi oleh sesuatu di hulu sungai, di sebuah tempat yang jarang didatangi manusia. Sebuah telaga tersembunyi yang dikelilingi tujuh air terjun kecil, yang oleh orang-orang tua disebut sebagai 'Telaga Bidadari'.
Mereka bilang, airnya ajaib. Malem Diwa hanya berpikir itu tempat yang baik untuk mencari ikan.
Dengan membawa busur dan pancingnya, ia berjalan berjam-jam, menembus rimbunnya hutan, menaiki tebing-tebing licin, hingga akhirnya ia tiba.
Tempat itu memukaunya.
Air telaga itu bukan biru atau hijau. Airnya jernih laksana kristal cair, memantulkan langit dengan begitu sempurna sehingga sulit membedakan mana air mana udara. Uap dari tujuh air terjun menciptakan kabut tipis yang permanen, dan di tengah kabut itu, pelangi-pelangi kecil menari-nari.
Malem Diwa bersembunyi di balik sebuah batu besar yang ditumbuhi lumut. Ia menunggu. Ia tidak tahu apa yang ia tunggu, tapi hatinya berdebar.
Bagian 3: Gema Tawa di Telaga Bidadari
Di Kayangan, Putroe Bungsu merasakan tarikan itu. Ia merasakan kehangatan bumi memanggilnya.
"Kakanda," bujuknya pada Putroe Sulung. "Pelangi di Gayo kemarin tampak pucat. Pasti tenunan kita kurang sempurna. Kita harus turun memperbaikinya."
Putroe Sulung menatap adiknya curiga. "Pucat? Aku lihat warnanya sempurna."
"Tidak. Jingganya kurang menyala. Nila-nya sedikit pudar. Kita harus mandi di telaga bumi untuk menyucikan benang-benang kita," desak Bungsu. Ini adalah ritual kuno, sesuatu yang jarang mereka lakukan, tapi dibolehkan. Mandi di telaga bumi yang paling murni akan mengembalikan kekuatan warna pada selendang surgawi mereka.
Putroe Sulung akhirnya setuju. "Baiklah. Tapi hanya sebentar. Kita ke Telaga Tujuh Bidadari. Dan ingat, Bungsu, jangan sekali-kali lepaskan selendangmu terlalu jauh. Tanpa itu, kita adalah debu."
Ketujuh bidadari itu mempersiapkan diri. Mereka mengenakan selendang mereka—kain ajaib yang berfungsi sebagai sayap, sebagai identitas, dan sebagai kunci untuk kembali ke Kayangan.
Diiringi cahaya yang melesat seperti bintang jatuh di siang bolong, mereka turun.
Malem Diwa, yang bersembunyi di balik batu, menahan napas. Langit di atas telaga seakan terbelah. Tujuh berkas cahaya—merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu—meluncur turun dan mendarat di permukaan telaga, menciptakan riak-riak kecil yang berpendar.
Ketika cahaya itu memudar, Malem Diwa merasa jantungnya akan meledak.
Di sana, di tengah telaga, berdiri tujuh gadis. Kulit mereka bercahaya lembut, rambut mereka lebih hitam dari malam tergelap. Mereka... sempurna. Tawa mereka terdengar seperti gemerincing lonceng perak, memantul di antara dinding-dinding batu air terjun.
Malem Diwa terpaku. Ini bukan gadis-gadis kotaraja. Ini bukan manusia. Ini adalah... jawaban atas kesunyiannya.
Para bidadari itu tertawa dan bermain air. Mereka melepaskan selendang mereka satu per satu, menyampirkannya di atas batu-batu besar di tepi telaga. Setiap selendang berkilau sesuai warnanya.
Putroe Bungsu, yang selendangnya berwarna ungu lembut—warna senja terakhir—meletakkannya sedikit jauh dari yang lain. Ia terlalu terpesona oleh seekor capung biru yang hinggap di jarinya. Ia terpesona oleh bau lumut, tekstur air yang dingin, dan suara serangga hutan.
Saat itulah Malem Diwa melihatnya. Sang bidadari termuda. Yang paling pendiam. Yang matanya menatap hutan dengan kekaguman seorang anak kecil.
Hati Malem Diwa bergetar. Sebuah pikiran nekat, egois, namun sangat manusiawi, terlintas di benaknya. Ia tidak ingin keindahan ini pergi. Ia tidak ingin kesunyiannya kembali.
Dengan gerakan sepelan macan kumbang, ia merayap. Kakak-kakak bidadari sedang berlomba menyelam. Putroe Bungsu sedang memejamkan mata, merasakan sinar matahari di wajahnya.
Tangan Malem Diwa yang kasar dan kapalan—tangan seorang pemburu—terulur dan menyentuh kain yang ditenun dari cahaya bintang itu. Kain itu dingin, namun hidup di tangannya. Begitu ringan, seakan tak berbobot.
Cepat. Ia harus cepat.
Ia menarik selendang ungu itu, menggulungnya, dan menyembunyikannya di dalam gulungan kulit di pinggangnya. Lalu, ia kembali ke balik batu, jantungnya berdebar begitu kencang hingga ia takut suaranya akan terdengar.
Bagian 4: Selendang yang Hilang
"Langit mulai memerah saga!" seru Putroe Sulung. "Waktunya kembali!"
Satu per satu, para bidadari naik ke bebatuan. Mereka mengeringkan tubuh dengan angin hangat yang mereka panggil. Mereka mengambil selendang mereka masing-masing.
Enam bidadari siap. Putroe Bungsu berjalan ke tempat ia meletakkan selendangnya.
Batu itu kosong.
"Di mana?" bisiknya. Ia mencari di baliknya. Di celah-celahnya.
"Bungsu, ayo!"
"Selendangku," kata Bungsu, suaranya mulai bergetar. "Selendangku tidak ada."
Kakak-kakaknya terdiam. Kepanikan mulai menjalari mereka. "Apa maksudmu tidak ada?" tanya Putroe Sulung, suaranya tajam. "Kau tidak mungkin menghilangkannya!"
"Aku meletakkannya di sini! Di atas batu ini!" Air mata—sesuatu yang jarang ada di Kayangan—mulai menggenang di mata Bungsu.
Mereka mencari. Di balik semak, di bawah air, di antara pakis. Tapi selendang itu lenyap.
"Kita tidak bisa menunggu," kata Putroe Sulung, wajahnya pucat. "Pintu langit akan segera tertutup. Jika kita terlambat, kita semua akan terperangkap."
"Tapi, Kakanda... aku..."
"Kau lalai, Bungsu!" bentak Sulung, rasa takut membuatnya kejam. "Kau terlalu asyik dengan alam fana ini! Ini hukumanmu!"
"Jangan tinggalkan aku!" raung Putroe Bungsu, kini tangisnya pecah.
"Kami tidak bisa tinggal. Maafkan kami."
Dengan berat hati, Putroe Sulung memberi isyarat. Satu per satu, keenam bidadari itu melesat ke langit, meninggalkan enam jejak pelangi yang memudar.
Putroe Bungsu sendirian. Terkulai di atas batu yang dingin. Keabadiannya hilang. Keilahiannya dicuri. Ia kini fana. Ia kini manusia. Tangisnya adalah satu-satunya suara di telaga yang kembali sunyi itu.
Malem Diwa menunggu hingga tangisan itu mereda menjadi isakan pelan. Perasaan bersalah berperang dengan rasa memiliki di dalam dirinya. Ia telah melakukan dosa besar. Ia telah mencuri langit milik seseorang. Tapi ia tidak bisa mengembalikannya.
Ia melangkah keluar dari balik batu.
Putroe Bungsu mendongak. Matanya yang ungu sembap karena tangis menatapnya, penuh ketakutan.
"Jangan takut," kata Malem Diwa, suaranya serak. Ia melepaskan jubah kulit rusanya dan menyampirkannya ke bahu telanjang bidadari itu. "Namaku Malem Diwa. Kau... kau tersesat?"
Putroe Bungsu menatap pemuda itu. Ia melihat mata yang tajam, tangan yang kuat, namun ia juga melihat sesuatu yang ia kenali. Sesuatu yang ia dengar dari serulingnya. Kesunyian.
Ia tidak tahu siapa yang mencuri selendangnya. Ia hanya tahu, ia kini sendirian di dunia yang asing. Dan orang asing ini adalah satu-satunya yang menawarkan kehangatan.
"Aku... aku tidak bisa pulang," bisik Bungsu.
Malem Diwa menelan rasa bersalahnya. "Kau bisa tinggal bersamaku. Aku akan melindungimu."
Bagian 5: Bumi Menjadi Rumah
Kehidupan baru Putroe Bungsu dimulai dengan kebingungan. Malem Diwa membawanya ke pondok kayunya yang kokoh di tepi hutan, jauh dari istana ayahnya.
Bagi Bungsu, segala sesuatu di bumi adalah pelajaran yang sulit. Api bisa membakar kulitnya. Pisau bisa melukai jarinya. Ia harus belajar memakai kain tenun kasar yang menggesek kulit halusnya. Ia harus belajar memasak nasi, bukan memanggil 'mana'.
Malem Diwa mengajarinya dengan kesabaran yang tak terhingga. Ia mengajari Bungsu cara membedakan jamur beracun, cara menyalakan api dengan batu, cara menenun serat pandan.
Dan Bungsu mengajarinya sebagai balasannya. Ia mengajari Malem Diwa tentang rasi bintang, tentang bagaimana membaca angin, tentang harmoni alam yang tak terlihat. Ia membawa kelembutan ke dalam pondok kasar itu. Pondok yang dulu hanya berbau kulit kering dan asap, kini berbau bunga hutan dan rempah-rempah.
Malem Diwa tidak pernah menyentuh selendang itu lagi. Ia menyembunyikannya di tempat paling aman yang ia tahu: di dasar lumbung padi mereka, terkubur di bawah ribuan bulir beras yang kering. Ia mengubur rahasianya dalam-dalam.
Bulan berganti musim. Rasa bersalah Malem Diwa memudar, berganti menjadi cinta yang tulus. Ia tidak lagi melihat Bungsu sebagai bidadari yang ia curi, tapi sebagai wanita yang ia cintai. Kelembutannya, kecerdasannya, dan matanya yang selalu terlihat merindukan langit, semua itu telah menjerat hati Malem Diwa.
Bungsu pun demikian. Ia masih merindukan Kayangan setiap kali melihat pelangi. Tapi ia mulai menemukan keindahan dalam kefanaan. Ia mencintai bau tanah setelah hujan. Ia mencintai cara Malem Diwa menatapnya saat ia menyisir rambut. Ia mencintai kehangatan kulit pemuda itu saat malam-malam yang dingin.
Pada akhirnya, ia menerima takdirnya. Malem Diwa melamarnya di bawah pohon kenari besar, bukan dengan permata, tapi dengan sebongkah kristal kuarsa yang ia temukan di gunung.
Mereka menikah. Sebuah pernikahan sederhana yang disaksikan oleh hutan dan sungai.
Setahun kemudian, pondok itu diramaikan oleh tangisan bayi. Seorang putra lahir. Kulitnya secerah ibunya, namun matanya setajam ayahnya. Mereka menamainya Raja Muda.
Untuk beberapa tahun, mereka adalah definisi kebahagiaan. Malem Diwa menjadi pemburu yang lebih bijak, kini ia berburu untuk menghidupi, bukan untuk lari dari sepi. Putroe Bungsu menjadi ibu yang paling lembut. Ia sering menyanyikan lagu-lagu Kayangan untuk putranya, lagu-lagu yang ia sendiri hampir lupa.
Langit adalah kenangan yang indah, tapi bumi adalah rumah yang nyata.
Bagian 6: Bayang-Bayang di Puncak Seulawah
Kebahagiaan mereka, bagaimanapun, tidak luput dari perhatian. Di dunia yang lebih tua dari manusia, ada kekuatan-kekuatan kuno yang mengamati.
Di puncak Gunung Seulawah, di sebuah sarang yang terbuat dari pohon-pohon yang tumbang dan tulang-tulang raksasa, hiduplah Si Geureuda Raksasa. Ia adalah garuda purba, sebesar rumah, dengan bulu-bulu logam yang tajam dan mata yang menyala seperti bara.
Ia telah tertidur selama seratus tahun. Kini, ia terbangun karena lapar.
Ia terbang di atas tanah Aceh, bayangannya menutupi seluruh desa. Raungannya membelah langit. Ia menyambar kerbau, sapi, dan terkadang, manusia.
Kabar tentang Geureuda sampai ke istana ayah Malem Diwa. Raja tua itu ketakutan. Kerajaannya di ambang kehancuran. Para prajurit terbaiknya tewas, tombak dan panah mereka memantul tak berdaya di bulu logam sang raksasa.
"Kita butuh pahlawan," rintih sang Raja.
Malem Diwa, yang sedang berada di pasar untuk menjual kulit, mendengar kabar itu. Ia melihat ketakutan di mata orang-orang. Ia melihat asap di kejauhan.
Hatinya yang telah dilembutkan oleh cinta Putroe Bungsu, kini merasakan tanggung jawab. Ia bukan lagi pemburu penyendiri. Ia adalah seorang suami, seorang ayah, dan seorang pangeran.
Ia pulang ke pondok. "Aku harus pergi," katanya pada Bungsu.
"Kemana?" tanya Bungsu, hatinya seketika mencelos.
"Melawan Geureuda. Ia menghancurkan tanah ini. Tanah tempat putra kita akan tumbuh."
Putroe Bungsu menatap suaminya. Ia melihat pemburu di dalam dirinya, tapi kini ada api seorang raja. Ia ketakutan. "Kau akan mati. Benda itu dari zaman purba. Ia ditenun dari amarah bumi."
"Aku harus mencoba."
Malam itu, Putroe Bungsu tidak bisa tidur. Ia menatap Raja Muda yang tertidur pulas. Ia tidak bisa membiarkan putranya tumbuh tanpa ayah. Ia juga tidak bisa membiarkan Geureuda menghancurkan dunia barunya.
Ia memejamkan mata. Ia mencoba mengingat. Mengingat pelajaran-pelajaran kuno Kayangan yang telah lama ia lupakan. Pelajaran tentang sihir bumi, tentang kelemahan makhluk-makhluk purba.
Sesuatu muncul. Sebuah ingatan.
"Bulu logam," bisiknya. "Logam memantulkan apa yang ia takuti."
Bagian 7: Pusaka dari Langit
"Kau tidak bisa membunuhnya dengan kekuatan," kata Bungsu keesokan paginya, matanya menunjukkan keyakinan yang baru.
"Lalu dengan apa? Panahku tak tembus," jawab Malem Diwa, yang sedang mengasah pedang pusakanya.
"Dengan kecerdasan. Dan dengan ini."
Putroe Bungsu memberikan sesuatu kepada Malem Diwa. Itu adalah cermin perunggu besar milik ibunya di Kayangan, satu-satunya benda yang ia bawa turun selain selendangnya, yang ia simpan sebagai kenang-kenangan. Cermin itu kusam, tapi Bungsu telah menggosoknya semalaman sambil membisikkan doa-doa kuno.
"Apa ini?"
"Geureuda ditenun dari kesombongan. Kelemahan makhluk sombong adalah bayangannya sendiri. Tapi tidak sembarang bayangan. Ia harus melihat sesuatu yang tidak ia duga."
Bungsu kemudian menjelaskan rencananya. Rencana yang gila, berbahaya, dan membutuhkan ketepatan sempurna.
Malem Diwa menatap istrinya. Ia bukan lagi gadis kecil yang tersesat di telaga. Ia adalah seorang ratu, seorang ahli strategi. Ia adalah bidadari yang telah menemukan kekuatannya di bumi.
"Aku akan membawakanmu bulu dari sayapnya," janji Malem Diwa.
Ia juga mengambil sesuatu yang lain. Seutas tali rotan yang paling kuat, yang telah ia pintal selama berbulan-bulan, direndam dalam getah beracun.
Dengan membawa cermin perunggu di punggungnya, busur terkuatnya, dan tali rotan beracun, Malem Diwa pergi ke Gunung Seulawah.
Bagian 8: Pertarungan Melawan Geureuda
Malem Diwa memancing Geureuda keluar dari sarangnya dengan membakar belerang di mulut gua. Sang raksasa keluar dengan amarah yang membahana.
Pertarungan itu berlangsung tiga hari tiga malam.
Malem Diwa, dengan kelincahannya, menghindari sambaran cakar dan paruh yang bisa membelah batu. Ia menembakkan panah api hanya untuk mengalihkan perhatian, sementara ia mempelajari pola serangan sang burung.
Geureuda itu sombong. Ia tertawa, suaranya seperti batu-batu besar yang berjatuhan. Ia bermain-main dengan 'semut' kecil yang berani melawannya.
Pada hari ketiga, Malem Diwa kelelahan. Ia terpojok di sebuah ngarai sempit. Ini adalah tempat yang ia pilih.
Saat Geureuda menukik untuk serangan terakhir, cakarnya terbuka lebar, Malem Diwa tidak lari.
Ia berbalik, menghadap sang raksasa, dan mengangkat cermin perunggu itu tinggi-tinggi.
"Lihatlah dirimu, wahai makhluk purba!" teriaknya.
Putroe Bungsu telah menyihir cermin itu. Itu bukan cermin biasa. Cermin itu tidak memantulkan Geureuda seperti apa adanya.
Ketika sang raksasa melihat bayangannya, ia tidak melihat burung logam yang agung. Ia melihat seekor burung pipit kecil yang gemetar ketakutan, basah kuyup, dan menyedihkan.
Kesombongan Geureuda tidak bisa menerima itu. Ia terkejut. Untuk sepersekian detik, ia ragu. Ia bingung. Mengapa bayangannya begitu lemah?
Di sepersekian detik keraguan itulah Malem Diwa beraksi.
Ia melompat ke atas, menggunakan dinding ngarai sebagai pijakan, dan melemparkan tali rotan beracunnya. Tali itu melilit leher sang Geureuda. Malem Diwa menariknya dengan sisa tenaganya, membuat sang raksasa kehilangan keseimbangan.
Geureuda itu meraung, bukan lagi karena marah, tapi karena ngeri melihat bayangannya yang hina. Ia jatuh, menabrak dinding ngarai, dan racun dari rotan itu mulai bekerja.
Malem Diwa berdiri terengah-engah saat makhluk raksasa itu menggelepar, bulu-bulu logamnya bergemerincing sebelum akhirnya diam.
Ia berhasil. Ia mencabut sehelai bulu sayap yang paling besar sebagai bukti, dan berjalan pulang.
Bagian 9: Benang yang Tergenggam
Seluruh negeri merayakan. Malem Diwa diarak sebagai pahlawan. Ayahnya menangis bangga dan menyerahkan takhta kepadanya. Malem Diwa kini adalah Raja, dan Putroe Bungsu adalah Ratunya.
Mereka pindah ke istana. Kehidupan mereka dipenuhi dengan kemakmuran.
Namun, di tengah perayaan besar-besaran atas penobatan mereka, istana kehabisan beras untuk pesta rakyat.
"Biar aku yang mengambilnya," kata Putroe Bungsu, tersenyum pada suaminya yang sedang dielu-elukan. Ia merindukan pondok mereka. Ia ingin melakukan sesuatu yang normal.
Ia pergi ke lumbung padi istana yang baru, yang juga digunakan untuk menyimpan barang-barang dari pondok lama mereka. Ia mengambil tempurung besar untuk mencedok beras.
Ia mencedok dalam-dalam ke tumpukan gabah kering.
Tangannya menyentuh sesuatu. Sesuatu yang terlalu halus, terlalu lembut untuk menjadi jerami. Sesuatu yang dingin seperti cahaya bintang.
Jantung Putroe Bungsu berhenti berdetak.
Ia mengenalinya dari sentuhan. Bahkan setelah bertahun-tahun, kulitnya masih mengingat tekstur Kayangan.
Ia menggali tumpukan beras itu dengan panik. Di sana, di dasar lumbung, tergulung rapi, tersembunyi, adalah selendang ungu miliknya.
Selendang yang hilang.
Selendang yang ia pikir dicuri oleh angin atau roh hutan. Selendang yang membuatnya terdampar.
Selendang yang hanya bisa disembunyikan oleh satu orang.
Putroe Bungsu terduduk di lantai lumbung, beras tumpah di sekelilingnya. Selendang itu ada di pangkuannya. Kenangan akan rumah, akan kakak-kakaknya, akan keabadiannya, menyerbu dirinya dengan kekuatan yang menyakitkan.
Ia menatap selendang itu. Lalu ia menatap ke arah istana, di mana suara tawa suaminya terdengar.
Malem Diwa.
Bukan angin. Bukan roh hutan.
Suaminya. Pria yang ia cintai. Ayah dari anaknya.
Pria itu telah mencurinya. Pria itu telah membangun kebahagiaan mereka di atas kebohongan terbesarnya. Semua cinta, semua kelembutan, semua perlindungan... semua dimulai dari pencurian.
Tangisnya kali ini bukan tangis kesedihan. Itu adalah tangis kehancuran.
Bagian 10: Rindu yang Pulang
Malem Diwa masuk ke lumbung, tertawa. "Sayang, apa yang kau la...?"
Tawanya mati. Ia melihat Putroe Bungsu. Ia melihat apa yang ada di pangkuan istrinya.
Wajahnya memucat. "Bungsu... aku... aku bisa jelaskan."
"Jelaskan?" Suara Bungsu terdengar asing, datar, dan dingin seperti angkasa luar. "Jelaskan apa? Jelaskan bagaimana kau melihatku menangis di telaga itu? Jelaskan bagaimana kau berbohong setiap hari selama bertahun-tahun? Jelaskan bahwa putraku lahir dari kebohongan?"
"Aku mencintaimu!" teriak Malem Diwa, sebuah pembelaan yang putus asa. "Saat itu aku kesepian. Aku melihatmu dan aku tahu... aku tidak bisa membiarkanmu pergi. Aku akan mati jika kau pergi."
"Kau memang membiarkanku mati," bisik Bungsu. "Kau membunuh bidadari dalam diriku. Kau membiarkanku percaya aku terbuang. Aku membencimu."
"Jangan... jangan katakan itu."
Putroe Bungsu berdiri. Ia mengenakan selendang itu di bahunya. Kain itu seketika hidup. Energi Kayangan yang lama tertidur mengalir ke dalam dirinya. Kulitnya mulai berpendar lembut. Gravitasi bumi terasa melepaskannya.
"Tidak! Bungsu! Jangan!" Malem Diwa mencoba memeluknya.
Tapi ia terlambat. Dengan kekuatan barunya, Bungsu mendorong Malem Diwa hingga terjatuh di tumpukan beras.
Raja Muda, putra mereka, terbangun oleh keributan itu dan berlari ke lumbung. "Ibu?"
Putroe Bungsu menatap putranya. Hatinya terbelah menjadi dua. Bumi dan Langit. Cinta dan Pengkhianatan.
Ia berlutut, memeluk Raja Muda erat. "Ibu mencintaimu lebih dari bintang-bintang. Jadilah raja yang adil. Jangan pernah berbohong seperti ayahmu."
Ia mencium kening putranya. Air matanya jatuh ke pipi sang anak, menjadi dua butir mutiara kecil.
"Bungsu! Bawa aku! Bawa aku bersamamu! Aku salah!" raung Malem Diwa, merangkak, memegang kaki istrinya.
Putroe Bungsu menatap suaminya untuk terakhir kali. Di matanya ada cinta yang telah mati, dan rindu yang telah hidup kembali.
"Selamat tinggal, Malem Diwa. Kau telah memilih takdirmu saat kau mengambil selendang ini. Sekarang, aku memilih takdirku."
Dengan satu hentakan, Putroe Bungsu melesat menembus atap lumbung padi, terbang ke angkasa dalam seberkas cahaya ungu.
Bagian 11: Epilog: Gema di Bintang
Malem Diwa hancur. Ia meraung-raung di lumbung padi, memeluk tumpukan beras yang masih menyimpan wangi istrinya.
Ia menghabiskan sisa hidupnya mencoba menyusul Bungsu.
Ia mengambil bulu Geureuda yang ia simpan, mencoba terbang. Tapi bulu itu hanya membawanya seratus meter sebelum jatuh.
Ia mengambil rotan terpanjang di hutan, mencoba memanjatnya ke langit. Tapi rotan itu putus.
Ia menjadi raja yang hebat, bijaksana, namun patah hati. Ia membesarkan Raja Muda menjadi pria yang jujur dan baik hati. Ia menceritakan kisah ibunya setiap malam.
"Ibumu bukan dari sini, Nak," katanya pada Raja Muda, sambil menunjuk gugusan bintang Pleiades, gugusan Bintang Tujuh. "Ia di sana. Ia sedang menenun pelangi untukmu."
Raja Muda tumbuh menjadi raja terbesar yang pernah dikenal tanah itu. Ia memiliki kebijaksanaan ayahnya, Malem Diwa, dan kelembutan serta mata ungu ibunya, Putroe Bungsu. Ia memerintah dengan keadilan, dan rakyatnya mengatakan ia bisa berbicara dengan angin.
Legenda mengatakan, Malem Diwa tidak pernah menikah lagi. Sampai akhir hayatnya, setiap senja, ia akan duduk di tepi telaga tempat ia pertama kali bertemu Bungsu, memainkan serulingnya.
Ia memainkan melodi yang sama. Melodi tentang elang yang terbang sendirian, tentang puncak gunung yang merindukan awan. Tapi kini, ada nada baru dalam musiknya.
Bukan lagi kesunyian.
Itu adalah penyesalan.
Dan di Kayangan, terkadang, jika angin sedang bertiup ke selatan, Putroe Bungsu akan berhenti menenun. Ia akan memejamkan mata, dan untuk sesaat, ia akan mendengar gema seruling bambu dari dunia yang pernah menjadi rumahnya.
Belum ada Komentar untuk "Legenda Selendang Bidadari dan Sang Pemburu Sunyi"
Posting Komentar