Tun Sri Lanang: Pengabdian, Pengorbanan, dan Warisan Intelektual Melayu Sepanjang Zaman
Tun Sri Lanang merupakan figur sentral dalam sejarah dunia Melayu yang peran dan pengaruhnya melampaui batas geografis serta zamannya. Ia tidak hanya dikenal sebagai Bendahara Kerajaan Johor, tetapi juga sebagai negarawan ulung, intelektual klasik, sejarawan, dan penjaga jati diri peradaban Melayu-Islam. Namanya terpatri kuat dalam ingatan kolektif bangsa Melayu berkat karya monumentalnya Sulalatus Salatin atau Sejarah Melayu, sebuah teks historiografi yang hingga kini menjadi rujukan utama kajian sejarah Asia Tenggara.
Esai ini disusun secara argumentatif dan persuasif dengan tujuan menegaskan bahwa Tun Sri Lanang bukan sekadar tokoh administratif, melainkan pilar peradaban. Melalui pengabdian politik, pengorbanan pribadi, serta dedikasi intelektualnya, ia mewariskan fondasi sejarah dan nilai kepemimpinan yang relevan lintas generasi. Dengan menelusuri perjalanan hidupnya dari awal hingga akhir hayat, esai ini mengajak pembaca memahami mengapa Tun Sri Lanang layak dikenang sebagai bapak historiografi Melayu.
1. Latar Belakang Kelahiran dan Lingkungan Sosial-Intelektual
Tun Sri Lanang dilahirkan sekitar tahun 1565 di Johor dengan nama lengkap Tun Muhammad bin Tun Ahmad. Ia berasal dari keluarga bangsawan tinggi yang memegang jabatan strategis dalam pemerintahan Melayu. Kakeknya adalah Bendahara Seri Maharaja, sebuah posisi yang menjadikan keluarganya sebagai penjaga adat, hukum, dan stabilitas politik kerajaan.
Lingkungan istana Johor pada masa itu merupakan pusat pendidikan elite Melayu. Anak-anak bangsawan dibesarkan dengan tradisi keilmuan yang mencakup pembacaan hikayat, pemahaman hukum adat, penguasaan bahasa Melayu klasik, serta pengajaran agama Islam. Tun Sri Lanang tumbuh dalam atmosfer intelektual yang menekankan keseimbangan antara kekuasaan dan ilmu.
![]() |
| Ilustrasi: Tun Sri Lanang |
Sejak usia muda, ia telah terbiasa mendengar kisah-kisah kejayaan Kesultanan Melaka, jatuh bangunnya kerajaan-kerajaan Melayu, serta nilai-nilai kepemimpinan yang berpijak pada adat dan syariat. Pendidikan inilah yang kelak membentuk pola pikir kritis dan sistematis dalam dirinya.
Argumentasi penting pada tahap ini adalah bahwa kecemerlangan Tun Sri Lanang bukanlah hasil kebetulan. Ia merupakan produk dari sistem pendidikan aristokrat Melayu yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai fondasi utama kepemimpinan.
2. Pengangkatan sebagai Bendahara Johor: Beban dan Amanah Besar
Pada usia relatif muda, Tun Sri Lanang diangkat sebagai Bendahara Kerajaan Johor. Jabatan ini adalah posisi tertinggi setelah sultan dan memiliki tanggung jawab besar dalam mengelola urusan pemerintahan, keuangan, pertahanan, dan diplomasi.
Masa pengabdiannya bertepatan dengan periode penuh gejolak. Portugis masih menguasai Melaka dan menjadi ancaman permanen bagi kerajaan-kerajaan Melayu. Di sisi lain, konflik internal di kalangan bangsawan kerap mengganggu stabilitas politik Johor.
2.1 Fungsi Bendahara dalam Tradisi Melayu
Dalam tradisi pemerintahan Melayu, bendahara bukan sekadar pejabat administratif. Ia adalah penasihat utama sultan, penafsir adat, serta pengimbang kekuasaan raja agar tidak menyimpang dari prinsip keadilan.
Tun Sri Lanang menjalankan fungsi ini dengan penuh kehati-hatian. Ia menata ulang sistem pemerintahan, memperbaiki tata kelola keuangan, serta memastikan hukum adat ditegakkan secara konsisten.
2.2 Kepemimpinan yang Berorientasi Rakyat
Salah satu ciri menonjol kepemimpinan Tun Sri Lanang adalah orientasinya pada kesejahteraan rakyat. Ia menyadari bahwa legitimasi kekuasaan kerajaan bergantung pada kemampuan melindungi dan menyejahterakan masyarakat.
Ia memperkuat sektor perdagangan maritim, menjaga keamanan pelabuhan, serta mendorong stabilitas ekonomi sebagai penopang kehidupan rakyat Johor.
3. Konteks Geopolitik Nusantara Abad ke-17
Untuk memahami peran Tun Sri Lanang secara utuh, penting menempatkannya dalam konteks geopolitik Nusantara abad ke-17. Periode ini ditandai oleh persaingan antar-kesultanan, ekspansi kolonial Eropa, serta perebutan hegemoni perdagangan di Selat Melaka.
Kesultanan Aceh Darussalam muncul sebagai kekuatan besar di barat Nusantara. Di bawah Sultan Iskandar Muda, Aceh melakukan ekspansi militer agresif untuk menguasai jalur perdagangan strategis.
Johor, sebagai penerus Melaka, berada di posisi rentan. Di sinilah kecakapan diplomatik Tun Sri Lanang memainkan peran penting dalam menjaga eksistensi kerajaan di tengah tekanan eksternal.
4. Penyerbuan Aceh dan Penawanan: Titik Balik Kehidupan
Pada tahun 1613, Aceh melancarkan serangan besar terhadap Johor. Serangan ini berakhir dengan kehancuran pusat kekuasaan Johor dan penawanan ribuan penduduk, termasuk Tun Sri Lanang.
Bagi seorang bendahara dan bangsawan tinggi, penawanan ini merupakan pukulan berat secara psikologis dan simbolis. Namun, justru pada fase inilah keteguhan karakter Tun Sri Lanang diuji.
4.1 Dari Tawanan menjadi Intelektual Istana Aceh
Sultan Iskandar Muda dikenal menghargai ilmu dan kecerdasan. Ia segera menyadari kapasitas intelektual Tun Sri Lanang dan memberinya kedudukan terhormat di lingkungan istana Aceh.
Tun Sri Lanang tidak diperlakukan sebagai tawanan biasa, melainkan sebagai penasihat dan pemikir. Fakta ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dapat melampaui batas politik dan permusuhan.
4.2 Makna Pengorbanan dalam Perspektif Sejarah
Penawanan ini dapat dipandang sebagai bentuk pengorbanan besar. Tun Sri Lanang kehilangan tanah kelahiran dan kedudukan lamanya, tetapi ia tidak kehilangan martabat dan komitmennya untuk mengabdi kepada masyarakat.
5. Sulalatus Salatin: Karya Agung Penjaga Ingatan Kolektif
Sulalatus Salatin merupakan mahakarya yang menempatkan Tun Sri Lanang sebagai tokoh sentral dalam historiografi Melayu. Karya ini ditulis atas titah Sultan Alauddin Riayat Shah III dan menjadi usaha sistematis pertama untuk merekam sejarah Melayu.
5.1 Struktur dan Isi Karya
Karya ini mencakup silsilah raja-raja Melayu, kisah kejayaan Melaka, konsep daulat, serta hubungan diplomatik antar-kerajaan. Ia tidak hanya mencatat peristiwa, tetapi juga nilai-nilai moral dan politik.
5.2 Nilai Akademik dan Budaya
Para sejarawan modern sepakat bahwa Sulalatus Salatin adalah sumber primer terpenting sejarah Melayu. Meskipun mengandung unsur mitos, struktur naratifnya memberikan kerangka analisis yang kuat bagi kajian sejarah.
5.3 Peran dalam Membentuk Identitas Melayu
Karya ini berfungsi sebagai cermin jati diri bangsa Melayu. Melalui teks ini, konsep kepemimpinan, kesetiaan, dan moralitas diwariskan lintas generasi.
6. Kehidupan di Samudera-Pasai dan Pengabdian Akhir
Setelah menetap di Aceh, Tun Sri Lanang diangkat sebagai pemimpin wilayah Samudera-Pasai. Di sana, ia mengabdikan diri sebagai pemimpin masyarakat, ulama, dan tokoh adat.
Ia dikenal sebagai sosok bijaksana yang mengajarkan nilai-nilai Islam, adat Melayu, dan pentingnya ilmu pengetahuan.
Tun Sri Lanang wafat sekitar tahun 1659 dan dimakamkan di Aceh. Makamnya hingga kini menjadi simbol pertemuan sejarah Melayu dan Aceh.
7. Dimensi Pengabdian Tun Sri Lanang
7.1 Pengabdian Politik
Menjaga stabilitas dan kedaulatan kerajaan dalam masa krisis.
7.2 Pengabdian Intelektual
Mewariskan karya sejarah monumental bagi generasi masa depan.
7.3 Pengabdian Spiritual dan Sosial
Menguatkan nilai moral dan pendidikan Islam di masyarakat.
8. Relevansi Tun Sri Lanang bagi Dunia Modern
Di era globalisasi dan krisis identitas, pemikiran Tun Sri Lanang mengajarkan pentingnya sejarah sebagai fondasi bangsa. Literasi, kepemimpinan berbasis ilmu, dan kesetiaan pada nilai menjadi pesan universal yang tetap relevan.
Bangsa yang melupakan sejarahnya akan kehilangan arah. Dalam konteks ini, warisan Tun Sri Lanang adalah kompas moral dan intelektual.
Kesimpulan
Tun Sri Lanang bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan arsitek peradaban Melayu. Pengabdian, pengorbanan, dan warisan intelektualnya menjadikannya figur abadi dalam sejarah Nusantara.
Mengenang Tun Sri Lanang berarti menjaga jati diri bangsa. Melupakan beliau berarti melepaskan salah satu pilar utama peradaban Melayu.
Daftar Referensi Akademik
- Ahmad, A. Samad (ed.). Sulalatus Salatin. Dewan Bahasa dan Pustaka.
- Andaya, Barbara Watson & Leonard Y. Andaya. A History of Malaysia. Palgrave Macmillan.
- Liaw Yock Fang. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik. Yayasan Obor Indonesia.
- Reid, Anthony. Southeast Asia in the Age of Commerce. Yale University Press.
- Ismail Hussein. Zaman dan Pemikiran Melayu. Dewan Bahasa dan Pustaka.
- C.C. Brown. “Sejarah Melayu.” JMBRAS.

Belum ada Komentar untuk "Tun Sri Lanang: Pengabdian, Pengorbanan, dan Warisan Intelektual Melayu Sepanjang Zaman"
Posting Komentar