Gajah Mada Gugur di Aceh: Sejarah Alternatif dari Tamiang
Pendahuluan: Ketika Sejarah Tak Tunggal
Dalam pelajaran sejarah nasional, nama Gajah Mada diabadikan sebagai Mahapatih Majapahit yang mengucap Sumpah Palapa dan menjadi simbol persatuan nusantara. Catatan sepert Nagarakretagama dan Pararaton; menegaskan bahwa ia meninggal pada tahun 1364, tak lama setelah peristiwa tragis Perang Bubat. Tapi, benarkah ia meninggal di Jawa? Apakah seluruh catatan sejarah resmi mencerminkan realitas, atau sekadar sudut pandang penguasa?
Di Aceh Tamiang, hidup narasi yang berbeda. Di sana, Gajah Mada diyakini tewas dalam pertempuran melawan Kerajaan Tamiang. Jejaknya masih dikenang dalam nama tempat seperti Manyak Pait (diyakini berasal dari "Majapahit") dan kisah lisan turun-temurun yang menyimpan versi sejarah alternatif.
Bagian I: Versi Resmi Historiografi Majapahit
Menurut Nagarakretagama karya Prapanca (1365), Gajah Mada adalah tokoh sentral dalam perluasan wilayah Majapahit. Setelah tragedi Bubat yang menewaskan rombongan Kerajaan Sunda, ia mengundurkan diri dan kemudian meninggal. Kitab itu tidak menyebut tempat atau sebab kematiannya. Hanya disebut bahwa ia digantikan oleh Mpu Nala.
Dalam Pararaton, Gajah Mada dikisahkan dengan nuansa magis dan politis. Tidak ada penjelasan eksplisit bahwa ia meninggal dunia dalam pertempuran, melainkan lebih sebagai tokoh yang purna tugas. Penelusuran arkeologis belum menemukan makam yang diyakini secara kuat sebagai milik Gajah Mada. Sejarawan seperti Slamet Muljana dan Agus Aris Munandar mencatat bahwa naskah-naskah ini punya kecenderungan glorifikasi terhadap kerajaan Majapahit.
Bagian II: Kisah Lisan dari Aceh Tamiang
Di Kampung Manyak Pait, Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang, masyarakat meyakini bahwa Gajah Mada pernah memimpin ekspedisi militer ke wilayah ini. Tujuannya, konon, untuk meminang Putri Lindung Bulan dari Kerajaan Tamiang. Pinangan itu ditolak oleh Raja Muda Sedia. Gajah Mada murka dan menyerang. Pertempuran berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Dalam versi lisan, Gajah Mada tewas di tangan Panglima Hantom Manoe, seorang panglima lokal yang melindungi tanah Tamiang. Jenazahnya tidak dipulangkan ke Jawa, melainkan dikuburkan di tanah Aceh. Nama "Manyak Pait" diyakini masyarakat sebagai kenangan terhadap pasukan Majapahit yang menderita kekalahan pahit.
Tokoh lokal seperti Tgk. H. Muzakkar, pegiat budaya dari Tamiang, dalam wawancara dengan media lokal tahun 2018 mengatakan: "Kami tidak sekadar mendengar cerita ini. Makam yang diyakini tempat Gajah Mada dikuburkan masih dikeramatkan warga. Ini bagian dari sejarah kami, bukan dongeng.”
![]() |
| Ilustrasi pertempuran Gajah Mada vs Panglima Hantom Manoe |
Bagian III: Toponimi dan Ingatan Kolektif
Nama-nama tempat seperti "Manyak Pait", "Rantau", dan "Bandar Khalifah" sering dikaitkan dengan kisah peperangan kuno. Sebagian warga percaya bahwa lokasi tertentu menyimpan jejak pasukan Majapahit yang tewas. Beberapa batu nisan tak bernama, struktur tanah, dan legenda lokal menguatkan ingatan kolektif itu.
Peneliti lokal seperti Drs. H. Zainuddin, M.Pd., dalam bukunya "Asal Usul Aceh Tamiang dan Warisan Sejarahnya" (2010), menulis bahwa: “Tamiang adalah wilayah penting yang dilupakan dalam narasi nasional. Padahal ia menyimpan bukti perlawanan terhadap ekspansi kekuasaan luar, termasuk Majapahit.”
Tradisi lisan adalah bagian sah dari historiografi. Di banyak kebudayaan, ingatan kolektif berfungsi sebagai pengganti arsip tertulis, terutama ketika kekuasaan dominan tidak mencatat kekalahan mereka. Dalam konteks ini, kisah Gajah Mada tewas di Tamiang layak dihormati dan diteliti lebih lanjut.
Bagian IV: Kritik terhadap Sejarah Jawa-Sentris
Sejarah Indonesia modern sangat dipengaruhi oleh sumber-sumber dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Narasi tentang keagungan Majapahit menjadi kerangka utama dalam penulisan sejarah nasional. Hal ini menyebabkan catatan dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, atau Papua sering dianggap periferal.
Dominasi ini tidak lepas dari politik kolonial Belanda yang mengangkat Jawa sebagai pusat administrasi. Setelah kemerdekaan, narasi ini dilestarikan oleh akademisi yang sebagian besar berasal dari atau terdidik di Pulau Jawa. Versi yang tidak selaras, seperti cerita Gajah Mada tewas di Aceh, cenderung dikesampingkan sebagai legenda atau dongeng.
Namun kini, pendekatan sejarah alternatif mulai menguat. Penelitian berbasis etnohistori, tradisi lisan, dan pendekatan sejarah dari bawah (history from below) memberi ruang bagi suara-suara lokal untuk masuk dalam narasi nasional. Sejarawan seperti Prof. Taufik Abdullah juga mendorong agar historiografi Indonesia lebih plural dan terbuka pada keragaman sumber.
Bagian V: Membangun Sejarah Alternatif yang Adil
Mengakui versi matinya Patih Gajah Mada di Aceh bukan berarti menolak historiografi Majapahit, tetapi kita menyadari bahwa sejarah tidak hanya tunggal. Ada narasi dominan, dan ada narasi tandingan yang berakar dari masyarakat lokal. Keduanya harus ditimbang secara seimbang.
Sudah saatnya sejarah Indonesia ditulis tidak hanya dari naskah dan prasasti kerajaan, tetapi juga dari batu nisan tak bernama, nama tempat yang penuh makna, dan suara rakyat yang diwariskan lintas generasi. Sebagai langkah awal, perlu diadakan riset kolaboratif antara sejarawan, arkeolog, dan budayawan Aceh untuk menguji kemungkinan-kemungkinan sejarah lokal ini. Dukungan pemerintah daerah dan universitas akan sangat membantu untuk membuka lembaran sejarah yang lebih adil.
Penutup: Gajah Mada di Simpang Sejarah
Apakah Gajah Mada meninggal dunia di tanah Jawa dalam damai, atau tewas di tanah Aceh dalam pertempuran? Kita mungkin tidak pernah tahu secara pasti. Tapi yang jelas, kisah Gajah Mada di Aceh Tamiang hidup dan berakar kuat dalam budaya setempat. Ia bukan sekadar dongeng, melainkan bagian dari identitas.
Maka, menghormati kisah ini bukan soal membuktikan benar-salah, tapi soal memberi tempat yang adil bagi semua versi sejarah Indonesia. Karena negeri ini dibangun bukan hanya oleh satu kerajaan, tapi oleh ribuan suara rakyat dari ujung barat sampai timur nusantara.
Catatan Akhir: Artikel ini adalah bagian dari upaya mendengarkan suara sejarah lokal yang sering terpinggirkan. Semua kutipan disarikan dari sumber terbuka dan tradisi lisan yang hidup di masyarakat Aceh Tamiang. Validasi ilmiah lebih lanjut masih diperlukan, namun ini adalah awal dari penulisan sejarah yang lebih berimbang.

Belum ada Komentar untuk "Gajah Mada Gugur di Aceh: Sejarah Alternatif dari Tamiang"
Posting Komentar