Tun Teja Ratna Benggala: Kisah Cinta, Politik, dan Historiografi dalam Lintasan Sejarah Melayu

Tun Sri Lanang merupakan salah satu tokoh intelektual paling berpengaruh dalam sejarah dunia Melayu. Namanya tidak hanya tercatat sebagai bangsawan dan pejabat kerajaan, tetapi juga sebagai penulis, pemikir, dan penjaga memori kolektif peradaban Melayu-Islam. Melalui karya monumental Sejarah Melayu, Tun Sri Lanang meletakkan dasar penting bagi historiografi, sastra, dan identitas kultural Melayu yang hingga kini masih dirujuk dan dipelajari.

Artikel ini membahas perjalanan hidup Tun Sri Lanang, konteks zamannya, karya intelektualnya, serta relevansi pemikirannya bagi masyarakat modern. Dengan pendekatan naratif-edukatif, tulisan ini diharapkan memberi pemahaman utuh tentang mengapa Tun Sri Lanang layak dikenang sebagai pilar intelektual Melayu.

Latar Belakang Kehidupan Tun Sri Lanang

Tun Sri Lanang lahir dengan nama Tun Muhammad bin Tun Ahmad Paduka Raja sekitar akhir abad ke-16. Ia berasal dari keluarga bangsawan tinggi Kesultanan Johor-Riau, yang pada masa itu menjadi salah satu pusat politik dan kebudayaan Melayu pasca runtuhnya Kesultanan Melaka.

Tun Sri LanangLingkungan aristokrat dan religius membentuk karakter intelektual Tun Sri Lanang sejak muda. Ia tumbuh dalam tradisi lisan dan tulisan yang kuat, di mana sejarah, hukum adat, dan ajaran Islam diwariskan dari generasi ke generasi. Pendidikan yang ia terima mencakup ilmu agama, tata pemerintahan, sastra, serta adat istiadat kerajaan.

Karier politiknya mencapai puncak ketika ia diangkat sebagai Bendahara Johor, jabatan tertinggi setelah sultan. Posisi ini memberinya akses langsung terhadap arsip kerajaan, tradisi lisan istana, serta dinamika kekuasaan yang kelak sangat memengaruhi karya tulisnya.

Konteks Sejarah Dunia Melayu Abad ke-16–17

Masa hidup Tun Sri Lanang merupakan periode penuh gejolak. Dunia Melayu menghadapi tekanan kolonial Eropa, terutama Portugis dan Belanda, sekaligus konflik internal antar-kerajaan. Runtuhnya Melaka pada 1511 menjadi trauma kolektif yang terus membayangi identitas politik Melayu.

Dalam situasi inilah penulisan sejarah menjadi penting. Sejarah tidak hanya berfungsi sebagai catatan masa lalu, tetapi juga sebagai alat legitimasi kekuasaan, penguat identitas, dan sarana pendidikan moral bagi generasi berikutnya.

Tun Sri Lanang hidup dan berkarya di tengah upaya mempertahankan martabat Melayu-Islam dari ancaman eksternal dan disintegrasi internal. Konteks ini menjelaskan mengapa karyanya sarat dengan nilai etika, kepemimpinan, dan loyalitas.

Sejarah Melayu: Karya Monumental Tun Sri Lanang

Karya paling terkenal Tun Sri Lanang adalah Sejarah Melayu, juga dikenal sebagai Sulalatus Salatin. Naskah ini disusun atas perintah Sultan Alauddin Riayat Syah III dan disempurnakan oleh Tun Sri Lanang sekitar tahun 1612.

Sejarah Melayu bukan sekadar kronik peristiwa. Ia memadukan sejarah, mitos, legenda, silsilah raja, serta refleksi moral tentang kekuasaan. Dalam tradisi Melayu, sejarah tidak dipisahkan dari nilai dan makna.

Beberapa tema utama dalam Sejarah Melayu antara lain:

  • Asal-usul raja-raja Melayu
  • Konsep daulat dan derhaka
  • Hubungan antara penguasa dan rakyat
  • Etika kepemimpinan dan keadilan
  • Peran Islam dalam pemerintahan

Gaya bahasa yang digunakan indah, simbolik, dan sarat kiasan. Hal ini menunjukkan bahwa Tun Sri Lanang tidak hanya seorang sejarawan, tetapi juga sastrawan ulung.

Antara Fakta Sejarah dan Legitimasi Kekuasaan

Salah satu kritik modern terhadap Sejarah Melayu adalah keberadaan unsur mitologis, seperti kisah keturunan raja dari Iskandar Zulkarnain. Namun, dalam konteks zamannya, hal ini bukanlah kelemahan, melainkan strategi kultural.

Di dunia tradisional, legitimasi kekuasaan sering dibangun melalui narasi sakral dan simbolik. Tun Sri Lanang memahami bahwa sejarah berfungsi membentuk kesadaran kolektif, bukan sekadar menyajikan fakta kronologis.

Dengan demikian, Sejarah Melayu harus dibaca sebagai teks budaya: perpaduan antara realitas sejarah, ideologi politik, dan nilai moral.

Nilai-Nilai Intelektual dalam Pemikiran Tun Sri Lanang

Warisan intelektual Tun Sri Lanang tidak berhenti pada teks. Ia mewariskan nilai-nilai yang relevan lintas zaman, antara lain:

1. Etika Kepemimpinan

Seorang raja digambarkan harus adil, bijaksana, dan bertanggung jawab. Kekuasaan tanpa moral akan membawa kehancuran.

2. Hubungan Penguasa dan Rakyat

Konsep daulat diimbangi dengan kewajiban melindungi rakyat. Kesetiaan tidak bersifat mutlak tanpa keadilan.

3. Pentingnya Ilmu dan Ingatan Sejarah

Tun Sri Lanang menempatkan pengetahuan sebagai fondasi peradaban. Bangsa yang melupakan sejarahnya akan kehilangan arah.

Pengaruh Tun Sri Lanang terhadap Sastra dan Historiografi Melayu

Pengaruh Tun Sri Lanang sangat luas. Sejarah Melayu menjadi rujukan utama bagi banyak karya sastra dan sejarah Melayu berikutnya, baik di Semenanjung Malaya, Sumatra, maupun wilayah Nusantara lainnya.

Naskah ini dipelajari oleh sejarawan, filolog, dan sastrawan, serta menjadi bahan ajar di berbagai institusi pendidikan. Bahkan dalam kajian modern, Sejarah Melayu dipandang sebagai salah satu fondasi historiografi Asia Tenggara.

Relevansi Tun Sri Lanang di Era Modern

Di tengah krisis kepemimpinan, degradasi etika, dan hilangnya kepercayaan publik, pemikiran Tun Sri Lanang terasa kembali relevan. Nilai keadilan, tanggung jawab, dan moralitas kekuasaan yang ia tekankan masih menjadi kebutuhan mendesak masyarakat modern.

Selain itu, pendekatannya terhadap sejarah mengingatkan kita bahwa narasi dan identitas tidak bisa dilepaskan dari nilai budaya. Modernitas tidak harus berarti memutus hubungan dengan tradisi.

Kesimpulan: Tun Sri Lanang sebagai Penjaga Ingatan Melayu

Tun Sri Lanang bukan sekadar tokoh masa lalu. Ia adalah penjaga ingatan kolektif bangsa Melayu, penghubung antara sejarah, sastra, dan etika sosial. Melalui Sejarah Melayu, ia mewariskan lebih dari sekadar cerita: ia mewariskan cara memahami kekuasaan, identitas, dan tanggung jawab moral.

Memahami Tun Sri Lanang berarti memahami akar intelektual Melayu itu sendiri. Di tengah arus globalisasi, warisan pemikirannya tetap menjadi sumber refleksi dan inspirasi bagi generasi masa kini dan mendatang.

Referensi Akademik

  • Ahmad, A. Samad. Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu). DBP.
  • Reid, Anthony. Southeast Asia in the Age of Commerce.
  • Hooker, Virginia Matheson. Writing a New Society.

Belum ada Komentar untuk "Tun Teja Ratna Benggala: Kisah Cinta, Politik, dan Historiografi dalam Lintasan Sejarah Melayu"

Posting Komentar

Top Ad Articles

Middle ad article 1

Middle ad article 2

Iklan under Artikel