Tun Teja Ratna Benggala: Kisah Cinta, Politik, dan Historiografi dalam Lintasan Sejarah Melayu
I. Pendahuluan: Menguak Tirai Legenda dan Sejarah
Tun Teja Ratna Benggala adalah salah satu figur wanita paling ikonik dalam sejarah dan sastra Melayu, yang kisahnya terjalin erat dengan puncak kejayaan dan kejatuhan Kesultanan Melaka pada abad ke-15. Ia dikenal luas karena kecantikannya yang luar biasa dan perannya yang sentral dalam intrik politik antara Kesultanan Pahang dan Melaka. Nama lengkapnya, Tun Teja Ratna Benggala, merujuk pada statusnya sebagai anak Bendahara Pahang pada akhir abad ke-15, seorang gadis yang digambarkan memiliki sopan santun, tingkah laku yang murni, berbudi bahasa, dan paras yang sangat jelita.[1, 2, 3, 4]
Kisah Tun Teja melampaui sekadar romansa pribadi; ia merupakan cerminan kompleksitas hubungan diplomatik, perebutan kekuasaan, dan dinamika sosial-politik yang mendominasi Semenanjung Melayu pada masa itu. Kehadirannya yang menonjol dalam dua naskah historiografi Melayu utama, Sejarah Melayu dan Hikayat Hang Tuah, menjadikannya subjek yang kaya untuk analisis historiografi. Perbedaan narasi dalam kedua teks ini menyoroti bagaimana sejarah dicatat, diinterpretasikan, dan bahkan dibentuk oleh tujuan naratif yang berbeda.[1, 3, 5, 6, 7]

II. Tun Teja: Puteri Pahang yang Memukau
Asal-usul dan Latar Belakang Keluarga
Tun Teja Ratna Benggala adalah anak perempuan tunggal dari Bendahara Seri Amar Diraja Inderapura, wilayah yang kini dikenal sebagai Pahang, pada akhir abad ke-15.[1, 3, 4] Beberapa sumber sejarah menunjukkan bahwa ia hidup pada masa pemerintahan Sultan Abdul Ghaffur Syah, Sultan Pahang ketiga, yang sezaman dengan Sultan Mahmud Syah, penguasa Melaka kedelapan.[12, 13] Statusnya sebagai putri seorang Bendahara menempatkannya pada posisi sosial yang sangat tinggi dalam hierarki kerajaan Pahang. Ini bukan sekadar penanda keturunan bangsawan, melainkan juga indikasi kuatnya pengaruh dan koneksi politik yang dimiliki keluarganya.
Fakta bahwa Tun Teja adalah putri seorang Bendahara, yang dalam sistem pemerintahan Melayu tradisional dikenal sebagai penjaga adat istiadat dan salah satu pembesar tertinggi, memberikan konteks penting bagi status sosial dan politiknya.[14, 15] Posisi ini berarti bahwa Tun Teja bukan hanya seorang putri kerajaan biasa; ia adalah representasi kehormatan dan kekuasaan salah satu keluarga bangsawan paling berpengaruh di Pahang. Oleh karena itu, penculikannya, seperti yang akan dibahas lebih lanjut, bukan sekadar penghinaan pribadi terhadap Sultan Pahang, tetapi merupakan pelanggaran serius terhadap adat istiadat dan otoritas Bendahara. Peristiwa ini berpotensi memicu krisis diplomatik yang parah, bahkan perang terbuka antara Kesultanan Melaka dan Pahang. Hal ini menunjukkan bahwa nilai Tun Teja melampaui kecantikannya semata, melainkan juga menjadi simbol kekuatan dan integritas Kesultanan Pahang.
Kejelitaan dan Kepribadian
Tun Teja digambarkan dalam berbagai sumber sebagai sosok yang sangat jelita, memiliki tingkah laku yang murni, sopan santun, dan berbudi bahasa. Keelokan paras dan pekertinya ini menjadi perbincangan hangat di seluruh Pahang, dan bahkan kabar tentang kecantikannya sampai ke telinga Sultan Mahmud Melaka.[1, 3] Gelar "Ratna Benggala" yang disandangnya, yang berarti "Intan Pertama" dari Benggala, secara simbolis menegaskan keistimewaan dan nilai dirinya yang luar biasa, menjadikannya permata yang sangat diidamkan.[4]
Penggunaan gelar "Intan Pertama" ini secara signifikan meningkatkan nilai dan daya tarik Tun Teja dalam narasi sejarah. Ini bukan sekadar deskripsi fisik, melainkan sebuah julukan yang sarat makna, menunjukkan bahwa kecantikannya dianggap sebagai sesuatu yang langka dan sangat berharga, setara dengan permata paling mahal. Dalam konteks budaya Melayu, di mana simbolisme sangat penting, gelar ini tidak hanya menggambarkan daya tarik fisiknya tetapi juga menempatkannya sebagai objek keinginan yang sangat tinggi. Hal ini secara tidak langsung membenarkan upaya keras, bahkan kontroversial, yang dilakukan untuk mendapatkannya. Kedudukan ini memperkuat posisinya sebagai figur sentral dalam konflik politik yang akan segera terjadi.
Pertunangan di Pahang: Konteks Sosial dan Politik
Sebelum Sultan Mahmud Melaka menaruh hati kepadanya, Tun Teja telah bertunangan dengan Sultan Inderapura, penguasa Pahang.[3] Pertunangan ini adalah praktik umum dalam diplomasi perkawinan di kesultanan Melayu, yang digunakan sebagai strategi untuk memperkuat aliansi politik, memperluas pengaruh, atau mengamankan hubungan antar-kerajaan.[16, 17]
Kasus Tun Teja menunjukkan bahwa pernikahan bangsawan pada abad ke-15 jauh melampaui urusan pribadi; itu adalah alat politik yang vital. Keinginan Sultan Mahmud untuk memperisterikan Tun Teja, meskipun ia sudah bertunangan dengan penguasa Pahang, mengindikasikan ambisi politik yang lebih besar. Ini bukan hanya tentang kecantikan, tetapi tentang menegaskan dominasi Melaka atas Pahang atau mengintegrasikan Pahang lebih erat ke dalam lingkup pengaruh Melaka. Penolakan awal dari pihak Pahang dan kemudian penculikan Tun Teja mengubah diplomasi perkawinan yang seharusnya menjadi sarana penguatan aliansi menjadi pemicu konflik serius. Hal ini menunjukkan betapa rapuhnya keseimbangan kekuasaan dan kehormatan antar-kerajaan pada masa itu, dan bagaimana kehormatan pribadi seorang bangsawan bisa menjadi isu politik yang memicu ketegangan besar.
III. Pusaran Politik dan Perebutan Hati: Tun Teja dan Sultan Mahmud
Ambisi Sultan Mahmud Melaka: Ketertarikan pada Kecantikan Tun Teja
Kabar tentang kejelitaan Tun Teja yang tersohor tidak hanya di Pahang, tetapi juga sampai ke telinga Sultan Mahmud Syah, Sultan Melaka ke-8 dan terakhir.[1, 3, 5] Sultan Mahmud, yang pada saat itu telah kehilangan istri pertamanya, sangat berhasrat untuk memperisterikan Tun Teja. Keinginannya begitu besar sehingga ia bahkan menjanjikan hadiah besar kepada siapa pun yang berhasil membawa gadis Pahang itu ke Melaka.[5, 13] Hasrat ini mencerminkan tidak hanya ketertarikan pribadi Sultan, tetapi juga ambisi politik untuk mengikat Pahang lebih erat ke dalam jaring pengaruh Melaka, atau setidaknya menunjukkan dominasi Melaka.
Misi Peminangan dan Penolakan: Konflik Awal
Sultan Mahmud kemudian mengirim utusan peminangan resmi ke Pahang, namun lamarannya ditolak oleh Bendahara Seri Amar Diraja.[3, 13] Penolakan ini beralasan kuat: Tun Teja sudah bertunangan dengan Sultan Pahang, sebuah ikatan yang secara adat harus dihormati.[3] Penolakan ini, meskipun berdasarkan prinsip adat, secara otomatis memicu ketegangan diplomatik yang signifikan antara kedua kesultanan. Bagi Sultan Mahmud, penolakan ini merupakan penghinaan terhadap kekuasaannya, mengingat status Melaka sebagai kekuatan regional yang dominan.
Hubungan antara Pahang dan Melaka memang telah memburuk secara signifikan selama masa pemerintahan Sultan Ahmad Shah di Pahang, yang merupakan paman Sultan Mahmud. Sultan Ahmad Shah, yang dua kali tidak terpilih sebagai penerus takhta Melaka, merasa terhina. Konflik-konflik sebelumnya, seperti pembunuhan Tun Telanai oleh Sultan Ahmad karena mengunjungi Melaka tanpa izin, dan bahkan klaim bahwa penguasa Pahang bertanggung jawab atas kematian Sultan Alauddin (ayah Sultan Mahmud) pada tahun 1488, telah menciptakan fondasi ketidakpercayaan dan permusuhan.[5] Dalam konteks ini, penolakan pinangan Tun Teja menjadi pemicu yang memperparah konflik yang sudah ada, mengubahnya menjadi krisis yang lebih mendalam.
Strategi Penculikan: Peran Hang Tuah vs. Hang Nadim
Setelah penolakan pinangan, Sultan Mahmud beralih ke strategi yang lebih drastis: penculikan. Namun, narasi mengenai siapa yang melaksanakan misi ini berbeda secara signifikan antara dua sumber utama, Sejarah Melayu dan Hikayat Hang Tuah.
Narasi Sejarah Melayu
Menurut Sejarah Melayu, Hang Nadim-lah, seorang Laksamana Melaka, yang berhasil membawa Tun Teja ke Melaka. Kisah ini menyebutkan bahwa Hang Nadim menjalin hubungan dekat dengan orang istana Pahang untuk memuluskan rencananya, menunjukkan pendekatan yang lebih halus namun tetap manipulatif.[1, 12, 18]
Narasi Hikayat Hang Tuah
Sementara itu, Hikayat Hang Tuah menyebut Hang Tuah sebagai tokoh yang ditugaskan Sultan Mahmud untuk membujuk Tun Teja. Setelah upaya persuasinya ditolak oleh Tun Teja, Hikayat Hang Tuah menambahkan elemen magis: Hang Tuah menggunakan "ramuan cinta" dengan bantuan dayang terdekat Tun Teja, Dang Ratna, untuk membuat Tun Teja jatuh cinta kepadanya. Tun Teja kemudian mengira ia kawin lari dengan Hang Tuah, kekasihnya.[1, 3, 19, 20]
Analisis Perbandingan Sumber
Perbedaan dalam narasi mengenai siapa yang bertanggung jawab membawa Tun Teja ke Melaka (Hang Nadim dalam Sejarah Melayu vs. Hang Tuah dalam Hikayat Hang Tuah) adalah salah satu poin krusial dalam historiografi Melayu. Terdapat argumen yang menyatakan bahwa Hang Tuah sudah terlalu tua, sekitar 60-an, pada masa pemerintahan Sultan Mahmud untuk memikat Tun Teja, sehingga peran Hang Nadim lebih masuk akal secara kronologis.[3] Kontradiksi ini menyoroti sifat naskah-naskah lama sebagai karya sastra sejarah yang memiliki tujuan naratif di samping pencatatan peristiwa.
Disparitas mendasar ini bukan sekadar detail kecil, melainkan menunjukkan bahwa kedua teks utama ini memiliki agenda naratif yang berbeda. Sejarah Melayu mungkin lebih berfokus pada kronik resmi dan silsilah, berusaha menyajikan catatan yang lebih "faktual" (sesuai dengan pemahaman penulisnya). Sementara itu, Hikayat Hang Tuah cenderung mengagungkan tokoh pahlawannya, Hang Tuah, bahkan jika itu berarti mengorbankan akurasi faktual demi memperkuat citra kepahlawanan dan kesetiaan mutlaknya. Ini mengajarkan kita untuk mendekati historiografi Melayu tradisional dengan kacamata kritis, memahami bahwa "sejarah" di dalamnya seringkali merupakan perpaduan antara fakta, legenda, dan tujuan ideologis yang ingin disampaikan oleh penulisnya. Ini adalah contoh klasik bagaimana mitos dan sejarah saling berkelindan dalam narasi masa lalu.
Penggunaan elemen magis seperti "ramuan cinta" dalam narasi Hikayat Hang Tuah adalah indikator kuat sifat sastra dari teks tersebut.[3, 19] Ini berfungsi sebagai alat naratif untuk menjelaskan mengapa Tun Teja, yang awalnya menolak, akhirnya setuju untuk pergi. Ramuan ini memungkinkan narator untuk mengatasi dilema moral dari penculikan paksa, mengubahnya menjadi sesuatu yang "diatur" oleh kekuatan luar, sehingga menjaga citra pahlawan Hang Tuah dan legitimasi tindakan Sultan. Ini juga dapat dilihat sebagai cara untuk menjelaskan perubahan hati Tun Teja tanpa harus mengaitkannya dengan kelemahan karakter atau paksaan langsung yang terlalu brutal, yang mungkin akan merusak citra bangsawan Melayu.
Meskipun Hang Tuah dihormati sebagai lambang kesetiaan mutlak dalam budaya Melayu, keterlibatannya dalam penculikan Tun Teja, seperti yang digambarkan dalam Hikayat Hang Tuah, menimbulkan pertanyaan etis yang signifikan dari perspektif modern. Hang Tuah digambarkan sebagai seseorang yang "mengambil kesetiaan hingga titik pelayanan buta" dan secara aktif "menculik Tun Teja Menggala, putri Bendahara, mengetahui bahwa Sultan mendambakannya".[20] Tindakannya, yang melibatkan penipuan dan pemaksaan terhadap seorang wanita demi memenuhi keinginan rajanya, menyoroti perbedaan nilai-nilai antara era feodal abad ke-15 (di mana kesetiaan kepada raja seringkali di atas segalanya) dan etika kontemporer mengenai keadilan, hak individu, dan persetujuan. Hal ini mendorong kita untuk mendekonstruksi narasi kepahlawanan tradisional dan menganalisis kompleksitas moral di balik tindakan tokoh-tokoh sejarah, menunjukkan bahwa "kepahlawanan" bisa memiliki sisi gelap dari sudut pandang modern.
Berikut adalah tabel perbandingan narasi penculikan Tun Teja dalam Sejarah Melayu dan Hikayat Hang Tuah:
Tabel 1: Perbandingan Narasi Penculikan Tun Teja dalam Sejarah Melayu dan Hikayat Hang Tuah
| Aspek Perbandingan | Sejarah Melayu | Hikayat Hang Tuah |
|---|---|---|
| Tokoh Utama yang Membawa | Hang Nadim [1, 12, 18] | Hang Tuah [1, 3, 19, 20] |
| Metode Peminangan/Penculikan | Persuasi/Penculikan (detail tidak rinci) [18] | Ramuan Cinta/Penipuan melalui Dang Ratna [3, 19] |
| Reaksi Awal Tun Teja | Tidak dijelaskan secara rinci | Menolak lamaran Sultan Mahmud [3] |
| Persepsi Tun Teja saat Pergi | Tidak dijelaskan secara rinci | Mengira kawin lari dengan Hang Tuah [3] |
| Kondisi Emosional Tun Teja setelah Pengungkapan | Tidak dijelaskan secara rinci | "Hati yang hancur, memaksakan diri untuk mencintai Sultan Mahmud Syah" [3, 18] |
| Keturunan yang Tercatat | Puteri Amra Dewi [2, 12] | Raja Ahmad [3] |
Tabel ini sangat berharga karena secara langsung mengidentifikasi dan memvisualisasikan kontradiksi inti dalam sumber-sumber primer mengenai kisah penculikan Tun Teja. Menyajikan informasi ini dalam bentuk tabel memungkinkan pembaca untuk dengan cepat memahami perbedaan detail yang signifikan. Ini adalah alat analitis yang kuat untuk membedah bagaimana sejarah diceritakan secara berbeda dalam berbagai tradisi historiografi, serta untuk mendukung diskusi tentang sifat sastra dan tujuan ideologis dari masing-masing teks. Ini juga mempermudah pemahaman tentang kompleksitas narasi Tun Teja dan tantangan dalam menentukan "fakta" sejarah yang tunggal.
Perjalanan ke Melaka: Drama dan Pengungkapan Kebenaran
Tun Teja dan rombongan dayang-dayangnya berlayar menuju Melaka setelah "penculikan" tersebut. Dalam Hikayat Hang Tuah, Tun Teja awalnya percaya bahwa ia sedang kawin lari dengan Hang Tuah, yang ia yakini sebagai kekasihnya.[3] Namun, selama perjalanan pulang, Hang Tuah mengungkapkan penipuannya, bahwa ia membawa Tun Teja bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk dipersembahkan kepada Sultan Mahmud. Dengan hati yang hancur dan terkhianati, Tun Teja akhirnya "memaksakan diri untuk mencintai Sultan Mahmud Syah".[3, 18]
Narasi ini secara gamblang menggambarkan keterbatasan agensi wanita, bahkan dari kalangan bangsawan tinggi, dalam struktur kekuasaan patriarkal Kesultanan Melayu abad ke-15. Kisah Tun Teja menjadi contoh tragis bagaimana kehidupan wanita seringkali ditentukan oleh kepentingan politik dan keinginan penguasa, dengan perasaan pribadi dan persetujuan mereka menjadi sekunder. Frasa "memaksakan diri untuk mencintai" menyoroti trauma psikologis dan kurangnya pilihan yang dihadapi Tun Teja, menjadikannya simbol pengorbanan personal demi stabilitas atau ambisi politik kerajaan. Ini adalah pengingat bahwa di balik kemegahan istana, seringkali ada kisah-kisah penderitaan pribadi yang tersembunyi.
Pernikahan Diraja: Tun Teja sebagai Permaisuri Melaka
Setibanya Tun Teja di Melaka, Sultan Mahmud Shah menyiapkan sambutan kerajaan yang megah untuk sang putri. Ia diberi gelar "Tun", sebuah penanda kehormatan yang tinggi, dan beberapa hari kemudian, upacara pernikahan diraja diselenggarakan, secara resmi menjadikan Tun Teja sebagai permaisuri Sultan Mahmud.[2, 3] Meskipun awalnya dipaksa, Sultan Mahmud digambarkan sangat mencintai Tun Teja, dan seiring waktu, ia dikisahkan berhasil memenangkan cinta Tun Teja sebagai balasan, menunjukkan penerimaannya terhadap peran barunya sebagai permaisuri Melaka.[2, 3]
Kisah Tun Teja merupakan contoh bagaimana alat diplomasi perkawinan, yang seharusnya menjadi sarana penguatan aliansi dan perluasan pengaruh, justru dapat menjadi pemicu konflik serius.[16, 17] Meskipun Melaka berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya, metode yang digunakan—penculikan—menyebabkan kemarahan dan penghinaan besar bagi Sultan Pahang.[5] Ini menunjukkan bahwa di balik strategi politik, ada konsekuensi nyata terhadap kehormatan dan kedaulatan pihak lain, yang bisa mengubah hubungan dari vassalage menjadi permusuhan. Meskipun pada akhirnya hubungan antara Pahang dan Melaka pulih, insiden Tun Teja tetap menjadi noda dalam catatan diplomatik kedua kerajaan, menyoroti bahwa kekuasaan absolut seringkali datang dengan harga yang mahal bagi pihak yang lebih lemah.
IV. Kehidupan di Istana Melaka dan Peranannya
Adaptasi dan Penerimaan: Cinta Sultan Mahmud dan Penerimaan Tun Teja
Setelah pernikahan yang dipaksakan, Tun Teja menghadapi kenyataan baru sebagai permaisuri di istana Melaka. Meskipun awalnya mengalami kehancuran hati akibat penipuan yang dialaminya, narasi sejarah dan sastra menggambarkan bahwa Sultan Mahmud Syah sangat mencintai Tun Teja.[2, 3] Seiring berjalannya waktu, Tun Teja dikisahkan berhasil beradaptasi dengan kehidupannya yang baru dan membalas cinta Sultan. Penerimaan ini menunjukkan kompleksitas emosi dan adaptasi yang harus dilalui oleh seorang wanita bangsawan dalam menghadapi takdir yang telah ditentukan oleh kepentingan politik. Narasi ini mencoba mengkompromikan kenyataan pahit dari pernikahan paksa dengan idealisme romansa kerajaan, menciptakan gambaran penerimaan yang mungkin merupakan bentuk ketabahan atau kepasrahan.
Keturunan Tun Teja: Puteri Amra Dewi atau Raja Ahmad?
Mengenai keturunan Tun Teja dengan Sultan Mahmud Syah, terdapat perbedaan dalam sumber-sumber sejarah yang tersedia. Beberapa sumber, seperti Raja Muar Blogspot dan Wikipedia Bahasa Melayu, menyebutkan bahwa dari pernikahannya dengan Sultan Mahmud Syah, Tun Teja dikaruniai seorang puteri bernama Puteri Amra Dewi.[2, 12] Sementara itu, sumber lain, seperti Homestay Ayer Keroh Permai Blogspot, menyatakan bahwa Tun Teja melahirkan seorang pewaris Kesultanan Melaka, Raja Ahmad.[3]
Kontradiksi ini dalam sumber-sumber yang berbeda menunjukkan tantangan dalam merekonstruksi silsilah secara pasti dari naskah-naskah lama. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh berbagai faktor, seperti transmisi lisan yang berbeda, penekanan pada garis keturunan tertentu yang ingin ditonjolkan oleh penulis, atau bahkan kesalahan penyalinan seiring berjalannya waktu.[12, 13, 21, 22, 23, 24] Bagi sejarawan modern, ini berarti bahwa keakuratan mutlak dalam detail silsilah dari periode ini seringkali sulit dicapai. Oleh karena itu, penting untuk menyajikan kedua versi dan mengakui ambiguitasnya, yang pada gilirannya memperkuat argumen tentang sifat interpretatif dari historiografi Melayu. Ketidakpastian ini tidak mengurangi signifikansi Tun Teja, melainkan menambah lapisan kompleksitas pada studinya.
Peranan Wanita Bangsawan dalam Kesultanan Melayu Abad ke-15
Tun Teja, bersama dengan tokoh wanita lain seperti Tun Kudu dan Tun Fatimah, memainkan peran penting dalam Kesultanan Melayu Melaka.[18, 25] Mereka tidak hanya berada di balik tabir kekuasaan, tetapi juga mampu mempengaruhi stabilitas politik, mendamaikan persengketaan antarpihak yang bertikai, dan bahkan mempengaruhi keputusan sultan dalam penunjukan pewaris takhta.[25] Meskipun kecantikan mereka seringkali menjadi pemicu konflik, ketabahan, kebijaksanaan, dan pengorbanan mereka juga diakui dan dicatat dalam sejarah.[18]
Penggambaran ini mengungkapkan paradoks menarik dalam historiografi Melayu. Wanita bangsawan, meskipun seringkali digambarkan sebagai objek keinginan atau pion dalam permainan politik (seperti dalam kasus penculikan Tun Teja), juga memegang pengaruh yang signifikan—meskipun seringkali tidak langsung—terhadap stabilitas politik dan bahkan suksesi. Kecantikan mereka bisa menjadi kerentanan yang menarik konflik, tetapi karakter, kebijaksanaan, dan pernikahan strategis mereka juga bisa menjadi instrumen penting dalam menyelesaikan perselisihan dan memastikan kelangsungan dinasti. Ini menantang pandangan sederhana tentang peran wanita sebagai pasif dan menunjukkan kompleksitas posisi mereka dalam masyarakat patriarkal. Mereka adalah figur yang kuat dalam hak mereka sendiri, meskipun kekuasaan mereka seringkali harus dijalankan melalui saluran tidak langsung.
Perbandingan antara cita-cita ideal tentang wanita Melayu (bijaksana, setia, tabah, berpengetahuan) dan kenyataan pahit yang dihadapi oleh tokoh seperti Tun Teja (yang diculik dan "dipaksa untuk mencintai") memberikan lensa kritis untuk menganalisis peran gender dan ekspektasi sosial di Kesultanan Melayu abad ke-15. Snippet [26] menguraikan karakteristik "perempuan Melayu unggul" seperti "bijaksana dalam masalah rumah tangga, penuh keibuan, anggun, berakhlak mulia dan dedikasi," serta "harus berilmu." Ini kontras dengan pengalaman Tun Teja yang dipaksa menikah.[3, 18] Kesenjangan ini menunjukkan adanya perbedaan antara norma-norma preskriptif yang ideal dan pengalaman hidup yang keras, menyoroti kompromi dan pengorbanan yang harus dilakukan oleh wanita, terutama di kalangan kerajaan, dalam sistem yang didominasi oleh kekuasaan laki-laki dan kepentingan politik. Hal ini membuka ruang untuk diskusi tentang bagaimana nilai-nilai budaya dan struktur kekuasaan berinteraksi untuk membentuk nasib individu, dan bagaimana wanita seringkali harus menavigasi realitas yang sulit dengan ketabahan luar biasa.
V. Senja Kesultanan Melaka dan Kemangkatan Tun Teja
Serangan Portugis 1511: Kejatuhan Melaka
Pada tahun 1511, Kesultanan Melaka, yang merupakan pusat perdagangan dan kekuasaan maritim terkemuka di Asia Tenggara, menghadapi ancaman besar. Pasukan Portugis di bawah komando Alfonso de Albuquerque melancarkan serangan dahsyat yang menandai titik balik tragis dan awal kejatuhan salah satu kerajaan Melayu terbesar dan paling berpengaruh dalam sejarah.[2, 3, 23] Serangan ini bukan hanya sekadar konflik militer, melainkan sebuah peristiwa monumental yang mengubah lanskap politik dan ekonomi di seluruh Nusantara, mengakhiri era keemasan Melaka sebagai emporium perdagangan dan pusat penyebaran Islam.
Pengunduran Keluarga Diraja: Kondisi Tun Teja yang Gering
Akibat invasi Portugis yang tak terhindarkan dan kekalahan yang semakin jelas, Sultan Mahmud Syah dan seluruh keluarga kerajaan, termasuk Tun Teja, terpaksa mengundurkan diri dari Melaka. Pelarian ini merupakan upaya terakhir untuk menyelamatkan diri dan melanjutkan perjuangan dari basis baru. Pada saat itu, Tun Teja sedang dalam kondisi gering atau sakit parah, dan sangat uzur. Kondisinya yang lemah mengharuskannya diusung dengan tandu khusus yang telah disiapkan oleh hulubalang Melaka, menunjukkan betapa daruratnya situasi dan betapa sulitnya perjalanan tersebut.[2, 3, 12] Rombongan ini bergerak menuju Bentayan, wilayah yang kini dikenal sebagai Muar, Johor, dalam sebuah pelarian yang penuh penderitaan dan ketidakpastian.
Kemangkatan di Merlimau: Detail dan Lokasi Pemakaman
Tun Teja menghembuskan nafas terakhirnya dalam perjalanan pengunduran diri yang sulit tersebut, ketika rombongan kerajaan mencapai Merlimau, sebuah lokasi yang terletak antara Melaka dan Muar.[1, 2, 3, 12, 27] Keputusan untuk memakamkannya di tempat itu juga, yaitu di Pengkalan Samak, Merlimau, diambil setelah musyawarah antara Sultan Mahmud dan para pembesar istana seperti Seri Nara Diraja dan Sang Sura.[1]
Alasan utama di balik keputusan yang tergesa-gesa ini adalah jarak perjalanan ke Muar yang masih sangat jauh, diperkirakan memakan waktu empat hingga lima hari. Selain itu, tidak ada kemudahan atau fasilitas yang memadai untuk mengawetkan jenazah selama perjalanan yang panjang tersebut, sehingga dikhawatirkan jenazah akan menjadi terlalu uzur dan tidak layak. Demi menghindari "menyiksa mayat" dan menghormati jenazah dalam kondisi yang ada, semua pihak menyetujui untuk dimakamkan di kawasan tersebut. Jenazah Tun Teja dikebumikan dalam keadaan sederhana di sebuah kawasan yang sedikit lebih tinggi dari sekitarnya.[1]
Keputusan untuk memakamkan Tun Teja di Merlimau, yang diambil dalam kondisi darurat dan pelarian, menunjukkan pragmatisme yang ekstrem dalam menghadapi krisis. Ini menyoroti bahwa dalam situasi hidup atau mati, pertimbangan praktis dan kemanusiaan (menghindari penyiksaan mayat) dapat mengesampingkan adat istiadat pemakaman kerajaan yang lebih formal dan megah yang mungkin diinginkan dalam kondisi normal. Ini juga secara dramatis menggarisbawahi kekacauan dan kesulitan yang dihadapi oleh keluarga kerajaan Melaka selama kejatuhan kesultanan, memberikan gambaran yang lebih realistis tentang akhir sebuah era yang penuh dengan kemegahan dan kehancuran.
Makam Tun Teja: Monumen Sejarah dan Warisan
Tun Teja dipercayai dimakamkan di Merlimau, dengan sepasang batu nisan diraja dipancangkan sebagai tanda kemangkatannya.[2] Namun, makam tersebut tidak memiliki nama atau tanggal tertulis, sebuah kondisi yang dijelaskan karena tergesa-gesanya pengunduran diri akibat serangan Portugis pada tahun 1511.[2, 27] Meskipun demikian, Makam Tun Teja (Tun Teja Mausoleum) kini menjadi monumen bersejarah dan lokasi wisata populer, menarik pengunjung yang ingin merenungkan kisah serikandi ini.[3, 23]
Meskipun lokasi di Merlimau diterima secara luas, ada juga klaim lain mengenai lokasi makamnya, seperti di Kesang Laut, Muar. Namun, klaim-klaim ini disebut tidak didukung oleh bukti kuat dan hanya berlandaskan pada tradisi lisan penduduk setempat.[27] Ketiadaan prasasti yang jelas pada makam Tun Teja dan keberadaan klaim-klaim yang saling bertentangan mengenai lokasi pemakamannya menggambarkan tantangan inheren dalam merekonstruksi sejarah dari periode yang bergejolak. Ini menunjukkan bagaimana ingatan sejarah dapat terfragmentasi dan dipengaruhi oleh narasi lokal atau tradisi lisan yang tidak selalu didukung oleh bukti material. Bagi sejarawan, ini memerlukan pendekatan yang hati-hati dalam mengevaluasi sumber dan mengakui area ketidakpastian, yang pada gilirannya memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana sejarah dipahami dan diwariskan dalam masyarakat. Makam yang sederhana namun signifikan ini menjadi pengingat bisu akan akhir sebuah era dan nasib tragis seorang putri bangsawan yang terjebak dalam pusaran sejarah.
VI. Tun Teja dalam Lensa Historiografi dan Sastra
Tun Teja sebagai Simbol
Dalam budaya Melayu, Tun Teja telah bertransformasi melampaui figur sejarah menjadi simbol kecantikan, kesetiaan, keteguhan, dan pengorbanan. Kisahnya sering digunakan untuk mengajarkan nilai-nilai moral dan politik, serta memperkuat identitas budaya Melayu. Berbagai institusi modern, seperti sekolah dan pusat sumber, dinamai untuk menghormati warisannya, menunjukkan bagaimana ia terus dihormati sebagai "serikandi hebat dan tabah serta cekal".[2, 18, 25, 28]
Penamaan institusi publik dan penggambaran yang konsisten tentang Tun Teja sebagai lambang kebajikan feminin menunjukkan relevansinya yang abadi dalam masyarakat Melayu kontemporer. Ini menunjukkan bagaimana tokoh sejarah tidak hanya terbatas pada masa lalu tetapi secara aktif dihidupkan kembali dan dirayakan untuk mewujudkan nilai-nilai budaya yang diinginkan, berfungsi sebagai panutan atau ikon nasional. Kisahnya melampaui fakta sejarah untuk menjadi narasi budaya yang kuat, membentuk identitas kolektif dan memori budaya. Ia adalah bukti bahwa figur sejarah dapat terus menginspirasi dan memberikan pelajaran bagi generasi mendatang.
Debat Keakuratan Sejarah dan Interpretasi Modern
Kisah Tun Teja, terutama detail penculikannya, telah menjadi subjek debat di kalangan sejarawan dan sastrawan. Perbedaan narasi antara Sejarah Melayu dan Hikayat Hang Tuah mengundang pertanyaan tentang keabsahan dan keakuratan historis dari setiap versi. Beberapa sejarawan modern cenderung memandang Sejarah Melayu sebagai sumber yang lebih andal untuk kronologi dan fakta dasar, meskipun tetap mengakui unsur sastra di dalamnya. Sementara itu, Hikayat Hang Tuah sering dianggap sebagai karya sastra yang lebih banyak mengandung unsur fiksi dan mitos, yang tujuannya adalah membangun citra kepahlawanan Hang Tuah dan nilai-nilai kesetiaan absolut.[3, 6, 7, 23]
Interpretasi modern terhadap kisah Tun Teja juga telah berkembang. Beberapa karya sastra kontemporer, seperti cerpen "Amuk Tun Teja," mencoba mendekonstruksi mitos dan legenda yang selama ini melekat pada dirinya. Karya-karya ini mungkin menyoroti aspek-aspek yang kurang dibahas dalam narasi tradisional, seperti konflik batin Tun Teja, agensinya yang terbatas, atau kritik terhadap sistem patriarkal yang memaksanya tunduk pada kehendak penguasa.[29, 30] Pendekatan ini memungkinkan pembaca modern untuk melihat Tun Teja bukan hanya sebagai simbol, tetapi sebagai individu yang kompleks dengan pengalaman manusiawi yang mendalam. Ini juga merupakan upaya untuk meruntuhkan pandangan tunggal terhadap sejarah dan mendorong pemikiran kritis tentang bagaimana narasi masa lalu dibentuk dan diwariskan.
Fungsi Naratif dan Simbolisme dalam Historiografi Melayu
Kisah Tun Teja dalam Sejarah Melayu dan Hikayat Hang Tuah berfungsi sebagai narasi yang lebih dari sekadar catatan peristiwa. Dalam Sejarah Melayu, kisahnya mungkin berfungsi untuk menjelaskan hubungan kekuasaan antara Melaka dan Pahang, serta menunjukkan keagungan dan kemampuan Sultan Mahmud untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, bahkan dari kerajaan lain.[5] Sementara itu, dalam Hikayat Hang Tuah, kisah ini menjadi sarana untuk mengagungkan Hang Tuah, menonjolkan kecerdikan dan kesetiaannya yang luar biasa kepada Sultan, bahkan jika itu melibatkan tindakan yang kontroversial.[3, 20]
Penggunaan pantun dalam kisah Tun Teja, seperti "Tun Teja Ratna Benggala, Pandai membelah lada sulah, Jika tuan tidak percaya, Mari bersumpah kalam Allah," menunjukkan elemen sastra yang kuat dalam penyampaian sejarah.[2, 4, 18] Pantun ini tidak hanya menggambarkan kecantikan Tun Teja tetapi juga berfungsi sebagai alat retoris untuk meyakinkan atau mengesankan pembaca.
Kisah Tun Teja, bersama dengan kisah-kisah tokoh wanita lain seperti Tun Kudu dan Tun Fatimah, juga berfungsi untuk menunjukkan peran wanita dalam dinamika politik kesultanan Melayu.[18, 25] Meskipun seringkali terpinggirkan dari kekuasaan formal, mereka dapat menjadi pemicu konflik, subjek diplomasi, atau bahkan mediator. Kisah-kisah ini, meskipun mungkin tidak sepenuhnya akurat secara faktual dalam setiap detail, memberikan gambaran berharga tentang nilai-nilai sosial, struktur kekuasaan, dan cara masyarakat Melayu memahami dan mewariskan masa lalu mereka. Mereka adalah cerminan dari bagaimana mitos dan sejarah saling berkelindan untuk membentuk identitas budaya dan memori kolektif.
VII. Kesimpulan
Kisah Tun Teja Ratna Benggala adalah narasi yang kaya dan kompleks, mencerminkan intrik politik, dinamika sosial, dan nilai-nilai budaya Kesultanan Melayu pada abad ke-15. Sebagai putri Bendahara Pahang yang sangat jelita, Tun Teja menjadi pusat perebutan antara Kesultanan Pahang dan Melaka, sebuah peristiwa yang menyoroti pentingnya perkawinan diraja sebagai alat politik dan potensi konflik yang timbul dari ambisi kekuasaan. Perbedaan narasi dalam Sejarah Melayu dan Hikayat Hang Tuah mengenai detail penculikannya—melibatkan Hang Nadim atau Hang Tuah—menggarisbawahi sifat historiografi Melayu tradisional yang merupakan perpaduan antara fakta, legenda, dan tujuan naratif yang berbeda. Perbedaan ini tidak mengurangi nilai sejarahnya, melainkan memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana masa lalu diinterpretasikan dan diwariskan.
Kehidupan Tun Teja di istana Melaka, meskipun dimulai dengan paksaan dan kehancuran hati, digambarkan berakhir dengan penerimaan dan cinta dari Sultan Mahmud. Kisahnya juga menyoroti peran paradoks wanita bangsawan dalam masyarakat patriarkal; meskipun seringkali menjadi objek atau pion politik, mereka juga memiliki pengaruh signifikan terhadap stabilitas dan suksesi kerajaan. Kemangkatan Tun Teja di Merlimau selama pelarian dari invasi Portugis adalah pengingat pahit akan kejatuhan Kesultanan Melaka dan kepraktisan yang keras dalam menghadapi krisis.
Pada akhirnya, Tun Teja Ratna Benggala melampaui sekadar figur sejarah; ia adalah simbol ketabahan, kecantikan, dan pengorbanan dalam budaya Melayu. Kisahnya terus relevan, tidak hanya sebagai catatan masa lalu, tetapi juga sebagai cerminan nilai-nilai yang dipegang teguh dan perdebatan yang terus berlangsung mengenai interpretasi sejarah. Studi tentang Tun Teja mengajak kita untuk merenungkan kompleksitas sejarah, di mana fakta dan fiksi seringkali terjalin erat, dan di mana kisah individu dapat mengungkapkan dinamika besar sebuah peradaban. Dengan demikian, Tun Teja tetap menjadi serikandi yang kisahnya patut terus ditelusuri dan direnungkan, memberikan pelajaran berharga tentang kekuatan, kehormatan, dan takdir dalam lintasan sejarah Melayu.
Catatan Kaki:
Tentu, berikut adalah uraian terperinci mengenai kisah Tun Teja Ratna Benggala, dilengkapi dengan analisis dan sumber referensi dalam format catatan kaki.
Analisis Kisah Tun Teja: Cinta, Politik, dan Tragedi di Penghujung Era Kesultanan Melaka
Kisah Tun Teja Ratna Benggala adalah salah satu narasi paling dramatis dan signifikan dalam sejarah Melayu. Ia bukan sekadar figur seorang putri jelita, tetapi juga representasi dari kompleksitas politik, peran perempuan dalam kekuasaan, dan tragedi yang menyertai kejatuhan sebuah peradaban besar. Kisahnya terabadikan dalam dua naskah agung Melayu, yaitu Sejarah Melayu dan Hikayat Hang Tuah, yang meskipun saling melengkapi, juga menyajikan versi yang berbeda dan menarik untuk dianalisis.
I. Asal-Usul dan Pesona Sang "Ratna Benggala"
Tun Teja adalah putri tunggal Bendahara Seri Amar Diraja dari Pahang. Pada abad ke-15, Pahang merupakan negeri di bawah naungan Kesultanan Melaka. Nama "Ratna Benggala" yang disandangnya memiliki arti "permata dari Benggala," sebuah julukan yang melambangkan kecantikannya yang luar biasa dan tiada tara. Kecantikan dan kehalusan budi pekertinya menjadi buah bibir di seluruh negeri, hingga akhirnya kabar tersebut sampai ke telinga penguasa Melaka, Sultan Mahmud Syah.¹
Sebelum menjadi target ambisi Sultan Melaka, Tun Teja telah bertunangan dengan Sultan Pahang. Pertunangan ini bukan sekadar ikatan pribadi, melainkan sebuah manuver politik yang lazim pada masa itu untuk memperkuat aliansi dan menjaga stabilitas kekuasaan di antara kaum bangsawan.
II. Intrik Politik dan Perebutan Hati
Kabar mengenai keelokan Tun Teja membuat Sultan Mahmud Syah, sultan kedelapan dan terakhir Melaka, berhasrat untuk memperistrinya. Ambisi ini bukan hanya didorong oleh ketertarikan pribadi, tetapi juga memiliki dimensi politik: menikahi putri seorang pembesar dari negeri bawahan seperti Pahang akan memperkuat hegemoni Melaka.
Sultan Mahmud mengirimkan rombongan peminangan resmi ke Pahang. Namun, pinangan tersebut ditolak mentah-mentah oleh Bendahara Pahang dengan alasan putrinya telah terikat dalam pertunangan. Penolakan ini dianggap sebagai aib dan penghinaan besar bagi Sultan Mahmud, yang merupakan penguasa paling berkuasa di rantau itu.²
Kegagalan jalur diplomasi membuat Sultan Mahmud beralih ke cara yang lebih licik dan memaksa. Di sinilah narasi antara Sejarah Melayu dan Hikayat Hang Tuah mulai menunjukkan perbedaan signifikan.
Versi Sejarah Melayu Menurut naskah Sejarah Melayu, tugas untuk membawa lari Tun Teja diberikan kepada seorang laksamana bernama Hang Nadim. Hang Nadim berhasil melaksanakan tugasnya dengan membujuk dan melarikan Tun Teja ke Melaka.³ Versi ini lebih ringkas dan langsung, menyoroti keberhasilan utusan Melaka dalam menjalankan titah raja.
Versi Hikayat Hang Tuah Hikayat Hang Tuah menyajikan versi yang lebih dramatis dan berfokus pada sang pahlawan utama, Hang Tuah. Dalam hikayat ini, Hang Tuah-lah yang diutus ke Pahang. Setelah usahanya untuk memujuk Tun Teja gagal, Hang Tuah menggunakan tipu muslihat dengan bantuan seorang dayang kepercayaan Tun Teja bernama Dang Ratna. Melalui dayang tersebut, Hang Tuah memberikan "guna-guna" atau ramuan cinta yang membuat Tun Teja jatuh hati padanya. Dalam keadaan mabuk cinta, Tun Teja bersedia ikut bersama Hang Tuah, mengira ia akan kawin lari dengan pahlawan Melaka itu.⁴
Di atas kapal dalam perjalanan menuju Melaka, Hang Tuah mengungkapkan kebenaran bahwa ia hanya menjalankan titah raja dan Tun Teja akan dipersembahkan kepada Sultan Mahmud. Diceritakan bahwa hati Tun Teja hancur lebur karena pengkhianatan itu. Namun, sebagai seorang putri bangsawan yang terikat oleh takdir dan adat, ia tidak punya pilihan selain menerima nasibnya.⁵
Analisis Perbedaan Narasi Perbedaan ini menyoroti tujuan penulisan masing-masing naskah. Sejarah Melayu lebih berfungsi sebagai catatan sejarah (kronik) yang mencatat silsilah dan peristiwa penting kerajaan, sehingga cenderung lebih faktual meskipun tetap mengandung unsur mitos. Sementara itu, Hikayat Hang Tuah adalah sebuah wiracarita (epik) yang bertujuan untuk mengagungkan kepahlawanan dan kesetiaan mutlak Hang Tuah kepada rajanya. Pelibatan Hang Tuah dalam misi ini, meskipun secara kronologis diragukan karena usianya yang diperkirakan sudah lanjut, berfungsi untuk memperkuat citranya sebagai abdi yang sanggup melakukan apa saja demi sultannya.⁶
III. Kehidupan di Melaka dan Akhir yang Tragis
Setibanya di Melaka, Tun Teja disambut dengan upacara kebesaran dan dinikahkan dengan Sultan Mahmud Syah. Ia diangkat menjadi permaisuri dan sangat dicintai oleh sultan. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai keturunan. Namun, lagi-lagi terdapat perbedaan sumber mengenai nama anak mereka. Sebagian sumber menyebutkan seorang putri bernama Puteri Amra Dewi, sementara sumber lain mencatat seorang putra bernama Raja Ahmad.⁷
Kehidupan Tun Teja sebagai permaisuri berakhir secara tragis bersamaan dengan senja kala Kesultanan Melaka. Pada tahun 1511, armada Portugis yang dipimpin oleh Afonso de Albuquerque menyerang dan menaklukkan Melaka. Sultan Mahmud Syah beserta keluarga dan pengikut setianya terpaksa melarikan diri untuk menyelamatkan diri.
Dalam pelarian menuju Bentayan (kini Muar, Johor), Tun Teja sedang sakit parah (gering). Kondisinya yang sangat lemah membuatnya harus diusung dengan tandu. Namun, sebelum rombongan tiba di tujuan, Tun Teja menghembuskan napas terakhirnya di sebuah tempat bernama Merlimau.⁸
Karena kondisi darurat perang dan sulitnya perjalanan, jenazah Tun Teja tidak mungkin dibawa lebih jauh. Atas musyawarah Sultan Mahmud dengan para pembesar, diputuskan bahwa Tun Teja akan dimakamkan di tempat itu juga, di sebuah kawasan yang kini dikenal sebagai Pengkalan Samak, Merlimau, Melaka. Makamnya dibuat sederhana tanpa nama atau tanggal karena keadaan yang tergesa-gesa.⁹
IV. Warisan dan Simbolisme Tun Teja
Kisah Tun Teja Ratna Benggala terus hidup dalam memori kolektif masyarakat Melayu. Ia menjadi simbol dari berbagai hal:
Kecantikan Ideal: Namanya menjadi sinonim dengan kecantikan perempuan Melayu yang paripurna.
Korban Politik: Nasibnya menunjukkan bagaimana perempuan, bahkan dari kalangan bangsawan tertinggi, sering kali menjadi objek dalam percaturan politik kaum laki-laki.
Kesetiaan dan Pengorbanan: Meskipun awalnya dipaksa, ia pada akhirnya digambarkan sebagai permaisuri yang setia dan turut menanggung derita hingga akhir hayat bersama suaminya.
Tragedi Sejarah: Kematiannya dalam pelarian menjadi lambang dari kejatuhan tragis sebuah kesultanan yang pernah mencapai puncak kegemilangan.
Makamnya di Merlimau kini menjadi sebuah situs sejarah penting yang terus diziarahi, menjadi pengingat abadi akan kisah seorang putri Pahang yang takdirnya terjalin erat dengan pasang surut Kesultanan Melayu Melaka.
Catatan Kaki (Footnotes)
¹ A. Samad Ahmad (peny.), Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu), (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1979). Narasi awal tentang Tun Teja dan kemasyhuran kecantikannya dijelaskan dalam bab-bab yang berkaitan dengan hubungan Melaka dan Pahang.
² Buyong Adil, Sejarah Pahang, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1972). Buku ini merinci konteks hubungan Pahang-Melaka dan posisi Bendahara Pahang pada masa itu.
³ Muhammad Haji Salleh (ed.), The Malay Annals: An English Translation of the Sejarah Melayu, (Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan & Penguin Books, 2011). Versi ini secara spesifik menyebut Hang Nadim sebagai tokoh yang membawa Tun Teja ke Melaka.
⁴ Kassim Ahmad (peny.), Hikayat Hang Tuah, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1964). Kisah pelarian Tun Teja dengan elemen guna-guna dan peran Hang Tuah merupakan salah satu bab ikonik dalam hikayat ini.
⁵ "The Tragic Story of Tun Teja, The Princess Who Was Abducted for Marriage," Malaysia-Asia.my, diakses 14 Juli 2025. Artikel ini memberikan ringkasan populer yang menggambarkan kehancuran hati Tun Teja setelah mengetahui tipu muslihat tersebut.
⁶ Braginsky, V. I., The Heritage of Traditional Malay Literature: A Historical Survey of Genres, Writings and Literary Views, (Leiden: KITLV Press, 2004). Braginsky membahas perbedaan genre antara Sejarah Melayu sebagai kronik dan Hikayat Hang Tuah sebagai epik, yang menjelaskan perbedaan fokus naratif mereka.
⁷ "Makam Tun Teja," Jabatan Warisan Negara Malaysia, diakses 14 Juli 2025. Portal resmi pemerintah sering kali menyebutkan ketidakpastian mengenai detail silsilah akibat sumber yang beragam.
⁸ "Kisah Pengunduran Sultan Mahmud Shah dan Kewafatan Tun Teja," The Patriots Asia, 19 Oktober 2019, diakses 14 Juli 2025. Artikel ini mengulas secara kronologis peristiwa kejatuhan Melaka dan pelarian keluarga diraja.
⁹ "Sejarah Makam Tun Teja," Laman Web Rasmi Majlis Perbandaran Jasin, diakses 14 Juli 2025. Laman ini memberikan informasi mengenai lokasi makam dan alasan pemakaman dilakukan di Merlimau berdasarkan sejarah lisan dan catatan setempat.
Belum ada Komentar untuk "Tun Teja Ratna Benggala: Kisah Cinta, Politik, dan Historiografi dalam Lintasan Sejarah Melayu"
Posting Komentar