Siklon Senyar: Jejak Rahasia di Balik Langit Aceh

Genre: Misteri / Detektif Lingkungan


Langit Aceh tidak pernah benar-benar sunyi. Bahkan ketika awan tampak diam, ada cerita yang bergerak perlahan di baliknya. Namun malam itu berbeda. Langit berdenyut, seolah memiliki nadi sendiri. Angin berputar tanpa arah, hujan turun bukan sebagai rahmat, melainkan sebagai pesan yang belum dipahami manusia.

Mereka menamainya Siklon Senyar.

Bukan badai biasa. Ia datang tanpa pengumuman, tanpa pola yang dapat ditebak. Dalam hitungan hari, Aceh—dari Bireuen hingga Aceh Tenggara—berubah menjadi peta luka. Sungai meluap, tanah runtuh, rumah-rumah hilang ditelan lumpur. Takengon dan Bener Meriah menggigil dalam kabut dan hujan dingin, sementara Aceh Timur, Tamiang, dan Utara tenggelam dalam genangan tak berkesudahan. Di Gayo Lues dan Pidie Jaya, suara sirene dan tangis menyatu dengan hujan. Bahkan Padang dan sebagian Sumatera Utara ikut merasakan napas panjang dari pusaran yang sama.

Di tengah kekacauan itu, Rasyid Al-Farisi tiba di Bireuen.

Ia bukan relawan biasa. Mantan pemerhati lingkungan yang kini bekerja secara independen, Rasyid dikenal lebih sering muncul di lokasi bencana daripada di ruang konferensi. Baginya, bencana tidak pernah sepenuhnya alamiah. Selalu ada jejak, selalu ada sebab yang ditinggalkan manusia—disengaja atau tidak.

Di Bireuen, ia berdiri di tepi sungai yang meluap, menatap sisa jembatan rangka baja yang patah dan roboh. Seorang lelaki tua duduk tak jauh darinya, memeluk tas plastik berisi dokumen basah.

“Badai ini aneh,” kata lelaki itu tiba-tiba. “Tidak seperti dulu. Datangnya seperti tahu jalan.”

Kalimat itu tertanam di kepala Rasyid.

Pola yang Tidak Wajar

Rasyid mulai mengumpulkan data: waktu hujan, arah angin, titik longsor, lokasi banjir bandang. Ia berpindah dari Bireuen ke Takengon, lalu ke Bener Meriah. Di dataran tinggi Gayo, ia menemukan sesuatu yang ganjil: hutan yang dulu rapat kini berlubang seperti kain tua dimakan ngengat.

Di Aceh Timur dan Tamiang, warga menunjuk aliran sungai yang berubah warna. Di Aceh Utara, tambak-tambak lama tertimbun lumpur. Di Pidie Jaya, tanah bergerak perlahan sebelum akhirnya runtuh. Semua wilayah itu terdampak satu sistem cuaca yang sama, tetapi kerusakannya tidak merata.

“Seolah-olah badai memilih target,” gumam Rasyid.

Ia bertemu Nadia, seorang selegram lokal yang telah lama meliput isu lingkungan. Nadia menunjukkan peta lama dan peta terbaru Aceh.

“Lihat ini,” katanya. “Dalam sepuluh tahun terakhir, perubahan tutupan lahan sangat drastis. Terutama di daerah hulu.”

Rasyid mengangguk. Siklon mungkin datang dari laut, tapi kehancurannya diperbesar oleh daratan yang rapuh.

Jejak di Gayo Lues

Perjalanan mereka berlanjut ke Gayo Lues. Di sana, hujan turun seperti tirai tebal, membatasi pandangan. Seorang pemuda bernama Ilham membawa mereka ke bukit tempat longsor besar terjadi.

“Dulu hutan,” kata Ilham lirih. “Sekarang kebun dan jalan logging. Waktu hujan datang, tanah tidak kuat lagi.”

Rasyid menemukan paku-paku besi tua, sisa papan penanda, dan jalur tanah keras—bekas alat berat. Tidak ada plang resmi, tidak ada izin yang jelas.

Namun yang paling mengganggu Rasyid adalah waktunya. Siklon Senyar muncul tepat ketika beberapa wilayah kehilangan penyangga alaminya.

Kebetulan? Atau akumulasi kelalaian yang akhirnya menemukan momentumnya?

Padang dan Sumatera Utara

Untuk memahami skala Siklon Senyar, Rasyid menyeberang ke Padang dan sebagian wilayah Sumatera Utara. Di sana, pola serupa terulang: hujan ekstrem, sungai yang tak mampu menampung air, pemukiman di dataran rendah yang terendam.

Seorang dosen klimatologi di Padang berkata, “Siklon ini memang dipicu oleh anomali laut. Tapi dampaknya diperparah oleh daratan yang sudah lama dipaksa bekerja di luar batasnya.”

Kata-kata itu menguatkan dugaan Rasyid.

Siklon Senyar bukan sekadar fenomena cuaca. Ia adalah cermin.

Mengurai Misteri

Kembali ke Aceh, Rasyid dan Nadia menyusun kronologi. Mereka menghubungkan laporan warga, data cuaca, dan perubahan tata guna lahan. Gambaran besar mulai terbentuk.

Hutan yang berkurang membuat tanah kehilangan daya serap. Sungai yang menyempit mempercepat luapan. Permukiman yang tumbuh tanpa perhitungan menjadi korban pertama. Ketika siklon datang, tidak ada lagi benteng alami.

“Jadi kenapa sekarang?” tanya Nadia.

Rasyid terdiam lama sebelum menjawab. “Karena batasnya sudah dilewati.”

Ia menyebutnya ambang senyar—titik ketika alam tak lagi mampu menoleransi tekanan. Siklon hanyalah pemicu terakhir.

Kesaksian yang Terlambat

Di Aceh Tenggara, mereka bertemu seorang ibu yang kehilangan rumah dan anaknya terseret arus. Ia tidak menangis. Suaranya datar, seperti tanah setelah hujan berhenti.

“Kalau saja sungai itu masih lebar seperti dulu,” katanya. “Kalau saja bukit itu tidak digunduli.”

Kalimat-kalimat sederhana itu lebih tajam daripada laporan resmi mana pun.

Akhir yang Terbuka

Saat hujan akhirnya mereda, langit Aceh tampak lebih terang, tetapi bekas luka tetap ada. Rasyid menyerahkan laporannya ke beberapa redaksi dan lembaga. Ia tahu, mungkin tidak semua akan dibaca. Mungkin tidak semua akan ditindaklanjuti.

Namun ia juga tahu, Siklon Senyar telah meninggalkan pesan yang terlalu jelas untuk diabaikan.

Bencana itu bukan sekadar datang dari langit. Ia bangkit dari tanah, dari sungai, dari hutan yang hilang perlahan—dan dari keengganan manusia untuk mendengar peringatan yang terlalu lama dibisukan.

Rasyid berdiri di tepi jalan, memandang awan yang bergerak menjauh.

“Ini belum berakhir,” katanya pelan.

Karena misteri terbesar bukan mengapa Siklon Senyar muncul, melainkan apakah manusia akan belajar sebelum ia kembali.


Catatan Penulis

Tulisan ini merupakan karya fiksi. Seluruh tokoh, nama, dialog, dan rangkaian peristiwa disajikan sebagai konstruksi naratif. Setiap kesamaan dengan individu, kelompok, atau peristiwa nyata terjadi secara kebetulan dan tidak dimaksudkan sebagai representasi faktual. Penyebutan wilayah, kondisi alam, dan fenomena lingkungan merujuk pada data dan kecenderungan umum, serta tidak dimaksudkan untuk menggambarkan kejadian spesifik maupun mengaitkan tanggung jawab pada pihak tertentu.

Belum ada Komentar untuk "Siklon Senyar: Jejak Rahasia di Balik Langit Aceh"

Posting Komentar

Top Ad Articles

Middle ad article 1

Middle ad article 2

Iklan under Artikel